Semalam, kami baru berbincang-bincang
lagi di telepon, aku dengan adik kosanku waktu kuliah di malang. Sangat senang
rasanya ketika mendengar suaranya nan riang dari kejauhan sana. Kami mengobrol
panjang lebar, terutama aku yang selalu bertanya tentang suasana kosan dan
kabar kota Malang. Rasanya rindu sekali dengan hal-hal kehidupan di Malang.
Adik kosanku bernama ade asli orang Madura, dengan logat kentalnya ia mulai
bercerita, kalau suasana kosan sekarang sudah tidak seramah ketika aku dan
penghuni lama masih berada di Wisma Kamilia, tempat kami singgah untuk menuntut
ilmu.
Wisma kamilia menjadi saksi biksu aku
yang sekarang menjadi seorang sarjana. Satu persatu penghuni lama sudah pergi
meninggalkan Wisma Kamilia. Nampaknya mereka sama sepertiku yang sudah puas
mendapatkan gelar sarjana, lalu tega meninggalkan tempat yang suka maupun duka
ada di Wisma. Sepanjang perjalanan menuntut ilmu di Malang, tidur, mandi,
makan, belajar, ngobrol, nonton tv, mencuci, menggosok, adalah rentetan
kegiatan saat berada di Wisma Kamilia.
Aku merasa sangat nyaman bisa tinggal
di kosan yang terlihat elit nan murah itu. Bayangkan saja, Wisma Kamilia
seperti hotel yang hanya memiliki 3 lantai dengan berbagai fasilitas:
tempat tidur, lemari, meja belajar,
listrik, dapur dengan kompor gas nya perlorong, kamar mandi 2 di luar
perlorong, televisi di luar per lorong, aku hanya membayar 2,5 juta per tahun.
Yaa, walaupun aku memlilih kamar yang kecil, tapi menurutku tidak sumpek, aku
berada di lantai 3, dan dari arah jendela aku bisa meloncat dan bisa berada di
balkon kamarku sendiri. Fasilitas yang memadai menjadi sangat luar biasa,
ketika teman-teman kos layaknya keluarga. Aku bisa berteriak memanggil rara di
lantai 2, aku bisa menyetel musik sangat kencang ketika pagi, aku bisa salat
berjamaah dengan teman-teman kos. Rasanya tidak mau pisah dari mereka.
Fasilitas dan suasana di wisma kamilia kini tinggal kenangan, Aku hanya bisa
bersedih ketika ade bercerita tidak seramah dahulu, kemudian terlihat individualis,
dan penghuni lamanya kini telah pergi satu-persatu. Ade masih satu tahun lagi
di Wisma, ia melanjutkan S1 dari selesai D3 nya.
Lalu emak si penjual nasi sayur dan
gorengan keliling langganan kami, kini tidak berjualan lagi. Kata ade, sekarang
tidak ada yang beli. Jadi ingat, sekitar jam 9 pagi emak sudah meneriaki kami
dari lantai 1 “Rek, nasiiii… sayuurrr…. Gorengan, masih anget.” Buru-buru kami
menyautinya “Tunggu mak.” Dan lari dengan semangatnya menuruni anak tangga
hingga ke lantai dasar. Ah, ternyata aku merindukan masakan emak.
Aku mulai bertanya lagi tentang para
penjualan yang sering ng-time di Wisma Kamilia, bagaimana dengan cak dul? Si
tukang bakso Malang yang baksonya super duper yummi, mamang bubur? Bubur asli
bandung dan mamangnya oge urang sunda, Tukang utuk-utuk? Yang selalu berisik
berteriak “Mbaaak, utuk-utuk, weci, getasss!”. Dan ternyata mereka masih
berjualan. “Alhamdulillah.” Ucapku. Yang buatku terkejut dari ucapan ade di
telepon adalah soal harga satu bakso cak dul kini Rp 2000 per bakso? Sesuatu
fenomenal, dulu aku membeli per-bakso-nya hanya Rp 500 saja.
Aku rindu suasana kos di Wisma Kamilia.
Kapan aku bisa menjamahnya lagi dan mengatakan. “Kamu gak digusur kan?”