Minggu

Rasanya Bikin Bujo yang Kekinian


Bujo itu singkatan dari bullet journal. Semacam to do list kamu yang udah kamu plan agar hidupmu lebih terarah. Catat hal-hal apa pun juga bisa di bujo sih. Selain biar terarah, waktumu tidak akan terbuang sia-sia. Karena hidup jadi lebih produktif. Yaaay! Buat yang pelupa kayak aku, bujo ini berfaedah bingit.

Nah, kalau masalah me-manage apa pun udah biasa banget dari zaman masih sekolah SD. You know what pas SD saya sering banget buat jadwal keseharian saya dari mulai bangun sampai kembali tidur. Pake waktu, ditulis di buku tulis sidu terus ditempel di meja belajar. 
Beralih ke zaman SMP, udah ada tuh yang namanya orgi (singkatan dari buku organizer) dan binder. Fungsinya? Buat isi biodata anak kelas. Terus, punya beberapa buku journal (ini karena bokap sering banget dapet book journal dan dikasihkan ke saya).
Terus, zaman SMA waktu mondok, saya punya buku kecil dan hampir penuh dengan tulisan. Yap! Tulisan apa aja numpuk di sana. Mulai dari wishlist, curhatan, utang, catet PR apa aja yang kudu saya kerjakan, apa aja yang besok saya harus kerjakan, dll. Semacam bujo tapi tulisannya acak kadut gitu lho, gado-gado banget!



Kebiasaan corat-coret itu sampai tahun 2013. Mulai dari tahun 2013 (kalau nggak salah) saya nggak mainan buku kecil itu lagi dengan coret-coretan. Saking, asiknya dengan media sosial. Jadinya, semua tulisan numpuk di gawai. Mulai dari curhatan, agenda hidup, dll.
  
Tahun 2013, saya memulai membuat life journal. Sifatnya lebih pribadi banget, dari hal cerita usia (semacam flashback), nulis kelebihan dan kekurangan diri yang saya sadari, terus wishlist saya catat dengan 100 poin yang saya tulisi entah itu terwujud atau belum, dll. Kan kita hanya berencana Allah yang menentukan. Karena bebikinan ngayal kayak gitu oh sungguh asik. Hehe.. 

Daaan.. mulai tahun 2017 inilah entah bagaimana saya jadi doyan searching bujo. Kemudian saya bergairah kembali untuk me-manage hidup. Karena menurut saya, bikin bujo kekinian itu seru. Saya bisa berkreasi sendiri. Hobi saya yang suka mainan kertas, tulisan serta gambar hadir lagi. 
Saya sih seneng banget bikin bujo kekinian. Ya selain biar hidupnya teratur, bujo adalah obat anti galau saya. 

Jadi penasaran nggak, bujo saya seperti apa? Boleh kok ditengok-tengok. Bujo saya bisa dilihat di sini. Semoga menginspirasi ya! Aammiinn.  


Sabtu

HIDUP Lebih Produktif dengan Bullet Journal (Indonesia)



Lanjut mengulik isi dari bujo! Yay! Setelah penjelasan yang saya paparkan di postingan sebelumnya ini. Ini dia, isi dari bujo versi saya.

Untuk membuat bujo dalam waktu bulanan. Seperti yang lainnya, saya mengawali dengan membuat kalender bulan saat ini: November. Di sini, saya membuat untuk mencatat kegiatan penting saya tiap bulan: seperti taklem, menstruasi, trip, bahkan *maaf pup saya.
Untuk simbol bulat warna merah, saya tandai untuk jadwal mensturasi saya, sedangkan simbol bulat cokelat untuk jadwal pup saya. Kenapa saya harus menandai pup saya: Karena saya wanita yang kurang serat. Jadi jadwal kapan saya pup harus dicatat. Kalau beberapa hari saya tidak pup, di situ saya akan mulai memperbanyak serat. Saya lagi diet program penggemukan badan nih, jadinya saya juga butuh menu makanan sehat yang menggemukkan. Penasaran, seperti apa menu yang saya rancang? Tunggu postingan saya bulan depan yah!  


Tiap bulan, saya harus menetapkan goals saya, karena saya tidak mau setiap bulan tidak ada goals atau pencapaian hidup saya yang tidak bermanfaat. Saya buat hanya 3 poin yang menurut saya, goals ini harus terlaksana dengan baik. Kalau pun tidak goals, setidaknya saya tahu saya ingin mencapai apa dalam bulan ini.
Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata: Nabi saw bersabda, “Dua kenikmatan kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)


Karena kemalasan saya menjadi seorang blogger, untuk berapa bulan saya tidak posting sesuatu apa pun dalam blog saya, katakanlah saya hiatus atau hibernasi untuk menulis di blog. (males menulis menjadi kendala buat saya) Karena baiknya, kemalasan itu harus disingkirkan sejauh-jauhnya.
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari malas, dan aku berlindung dari sifat penakut, dan aku berlindung dari pikun, dan aku berlindung dari bakhil.”

Untuk merangsang saya agar bersemangat dalam nge-blog, jadilah saya buat blog ideas dalam bulan ini yang harus saya posting. Karena sebenarnya, ide untuk menulis dalam blog sudah melimpah ruah di kepala dan belum terealisasikan di blog. Kemudian, saya mencatat sembrono saja di gawai saya. Dan nantinya, saya akan pilih ide yang banyak di notes gawai saya ke dalam blog ideas (yang harus saya posting untuk bulan ini) Rencananya sih, saya mau posting blog itu seminggu sekali setiap hari jum’at) untuk menulisnya bisa kapan pun dan di mana pun. Jadi, yang terpenting adalah postingan yang teratur untuk dapat perhatian dari google kalau traffic saya lancar dalam menulis di blog. hehehe 

Yay! Saya memang suka masak. Lagi-lagi kadang saya suka lupa mau masak apa kalau udah jatah hari libur saya di rumah. Recipe ideas ini saya buat bulanan. Karena saya hanya bisa masak di akhir pekan dan tidak pergi ke luar rumah.

Karena saya anaknya suka ngelamun, dan nggak baik juga kalau weekend nggak ke mana-mana dan nggak ngapa-ngapain. Saya membuat jadwal akhir pekan saya harus terisi dengan hobi atau kegiatan saya yang bermanfaat. Setidaknya, kalau saya tidak ke mana-mana, saya bisa ngapa-ngapain saja di rumah dengan kegiatan yang membuat saya fully happiness. Ada list tentang kegiatan saya selama weekend, yang nantinya akan saya isi ke dalam weekend list.

Weekly Spread
Tentang selama 7 hari yang sudah saya lalui, tentang rencana selama 7 hari yang akan saya penuhi. Jadi, semacam jadwal saya selama 7 hari ini.



Ada recite tracker: Saya ingin memulai lagi hafalan Al-Qur’an. Niat karena Allah, bukan karena ingin menjadi hafizah atau dielu-elukan orang. Big NoTrust me, dengan niat seperti itu kamu akan kalah sebelum perang. Karena memulai menghafal Al-Quran itu mudah sekali, yang susah justru mengulangi hafalanmu kembali. Hal ini yang saya rasakan, muraja’ah adalah hal yang sangat susah! Saya mengambil metode dari Ustaz Adi Hidayat, dengan menghafal 5 ayat tiap harinya. Untuk penjelasannya, kamu bisa klik ini Buat Jadwal Menghafal Al-Quran


Kalau kamu lihat bagan di atas, saya lebih banyak tracker saya untuk akhirat, mengapa? Karena saya mau tahu peningkatan dan penurunan ibadah saya selama hidup. Untuk Baca Al-Qur'an tidak saya buat, karena in sya Allah itu sudah menjadi habit saya seperti shalat 5 waktu.

Hal-hal apa saja yang saya ingin kerjakan di bulan ini. Dan list tersebut bisa saya masukkan dan sesuaikan dengan jadwal rutin saya (weekdays or weekend) Jadi, saya buat list-nya dulu di page ini sebanyak-banyaknya yang ingin saya lakukan.
Untuk yang wishlist, penjelasannya akan saya posting di jadwal berikutnya juga. Karena wish list yang saya buat dalam kategori tahunan (yang mana, tiap tahun saja akan di upgrade)


Ah! ini gunanya buat mengasah tulisan saya saja. Bisa diisi dengan quote atau curhatan saya sendiri.

Nah, itu tadi isi bujo saya pada bulan November. Jadi tiap bulan, pastinya akan di-upgrade dan untuk layout saya usahakan berganti. Dan, untuk weekly spread, tentunya saya akan upgrade setiap minggunya. 

Rabu

From Ciledug to Wonosobo



Jadi ceritanya, saya tidak berencana apa pun untuk menghadapi tahun baru dengan jalan-jalan ke luar kota seperti tahun-tahun sebelumnya. Pergi ke Wonosobo untuk mengakhiri dan mengawali tahun baru adalah sebuah ketidaksengajaan karena melihat e-mail dari kantor yang masuk, bahwa akan ada cuti bersama yang mengiringi tanggal merah pada saat Natal dan tahun baru. Mulai tanggal 23 sampai 26 Desember 2017  dan keisi masuk kantor cuman dua hari yang terjepit di antara hari libur. Lalu, mulai tanggal 29 Desember 2017 sampai tanggal 2 Januari 2018 libur lagi. Saya merasa liburnya itu teramat panjang dan sangat kejepit sekali hingga saya berpikir, “dari pada sayang gini liburannya, cuman di rumah dengan estimasi hari libur yang lama, lebih baik saya ke Wonosobo saja.” 

Memutuskan long weekend untuk pergi ke Wonosobo adalah pilihan liburan yang murah dan tepat buat saya, dengan alasan: Pertama, akomodasi yang murah untuk perjalanan ke luar kota pada peak season, karena memang harganya tidak naik kalau long weekend seperti ini. Kedua, tidak perlu repot untuk jauh-jauh hari mendapatkan tiket bus yang available, karena bus ke Wonosobo dibuka pada satu waktu kita akan pergi juga. Ketiga, saya tidak perlu menginap di hotel dengan mengeluarkan biaya lagi, karena kakak saya tinggal di sana bersama suami.

Saat saya berpikir akan jalan-jalan ke Wonosobo, jujur saya tidak terlalu bersemangat dan excited seperti jalan-jalan ke kota lainnya. Karena saya beberapa kali hinggap ke Wonosobo dan inginnya berkelana ke kota yang belum pernah saya kunjungi. Walau sering saya berkunjung, namun ada beberapa spot objek wisata Wonosobo yang belum pernah saya kunjungi. Dari dulu, saya kepengin banget mencoba hiking ke gunung. Apalagi ini di Wonosobo, semacam gunung atau tempat-tempat tinggi di sana adalah destinasi favorit bagi pecinta gunung. Tapi, karena liburan (lagi-lagi) kali ini ke Wonosobo barengan saudara, kayaknya untuk hiking ke Gunung nggak dulu deh. Iya, si Tante dan anaknya juga ikut, nggak mungkin juga ke tempat-tempat tinggi hiking gitu.

Dari bulan kapan tau, hujan masih saja sering turun di Wonosobo. Keinginan saya untuk pergi ke Dieng, sepertinya tidak memungkinkan. Kakak saya bilang, di Dieng (atas) masih kerap terjadi longsor, dan di Wonosobo hampir tiap hari turun hujan. Saya sih pasrah saja akan ke mana nanti, yang ada di dalam pikiran saya adalah, “saya mau menghabiskan liburan panjang ini tidak di rumah.” Udah gitu aja.

Tanggal 27 Desember 2017 pagi hari pukul 08.00 saya dan ibu langsung cus ke loket Bus yang ada di Asrama Polri, Ciledug. Loket memang dibuka pada pukul tersebut untuk yang mau pergi pada saat hari itu juga. Seperti yang saya tulis sebelumnya, beli tiket untuk pergi ke Wonosobo “on the spot.” Beli tiket bus ke Wonosobo, bukan hanya di Asrama Polri, di Pasar Lembang yang dijadikan terminal untuk bus-bus luar kota juga dibuka pada pukul yang sama. Bedanya, kalau ingin dapet duduk dengan kursi yang berada di depan, sebaiknya membeli tiket dari Pasar Lembang Ciledug saja.

Sebenarnya saya ingin sekali memesan kursi di depan, dan harusnya saya beli tiket di Pasar Lembang. Waktu ke Wonosobo sebelumnya, ada insiden paling tidak adil bagi saya dan keluarga yang saat itu sudah membeli tiket bus di Pasar Lembang. Kami mendapatkan kursi di depan dan saat sudah di bus, nomor kursi kami jadi berpindah tempat ke kursi persis di belakang penumpang lain yang menyelak. Ibu saya komplain ke loketernya yang saat itu kami naik bus dari Asrama Polri (rule-nya memang bisa kok, beli tiket bus di Pasar Lembang, dan naiknya baru di Asrama Polri). Anehnya, si Mbak beserta Sopirnya, tidak mengindahkan keluhan Ibu saya (karena ibu saya yang beli tiketnya) terjadi cek-cok mulut lah, tetap saja mereka yang tak mau kalah (jelas-jelas mereka yang salah). 

Setelah insiden yang tidak mengenakkan bagi saya dan keluarga, yang entah bagaimana mereka bisa selicik itu, Ibu dan saya jadi kapok untuk membeli tiket dari Pasar Lembang, ya takut-takut diperlakukan tidak adil lagi dari pihak PT. Sinar Jayanya.

Dan... pagi hari itu, di tanggal alhamdulillah, ibu saya tuntas membeli tiket bus ke Wonosobo. Seperti tidak disangka sebelumnya, saya kebagian kursi belakang! Saya sudah mulai uring-uringan melihat tiket yang sudah terbelikan oleh ibu. 


Kalau yang tahu bagaimana rasanya berada di bus dengan duduk di kursi belakang akan ada drama: pusing dan mual. Ya gimana lagi ye kan, tiket sudah dibeli dan bersyukur masih mendapatkan tiket bus: karena ini long wiken, pastilah penumpang akan penuh sekali. Dengan harga 100.000 menggunakan bus bisnis AC seat 3-2, Bus Sirna Jaya Jurusan Wonosobo akan berangkat pada pukul 14.00. Penjelasan soal waktu keberangkatan, bagi saya, kali pertama berangkat ke Wonosobo pada pukul 14.00. Biasanya Bus Jurusan Wonosobo mulai jalan pada pukul 16.00. Kata loketernya sih, karena long wiken dan di tol akan padat dengan kendaraan.  

Sebelum pukul 14.00 saya dan saudara sudah standby di Asrama Polri, menunggu bus datang. Telat setengah jam, bus akhirnya datang. Dan sekitar 14.45, bus mulai berangkat. Terjadi kemacetan yang parah di Bekasi, bus terus melaju hingga akhirnya sekitar pukul 19.30, sampailah di tempat ngasonya Bus Sirna Jaya di daerah... (((duh lupa))) 

Waktu yang disediakan hanya setengah jam untuk ishoma, kami buru-buru shalat Jamak dan Qashar maghrib – Isya, dan makanlah kami di bus yang sudah kami bawa dari rumah. Bus melanjutkan perjalanannya dan terus melaju. Yang saya rasakan saat duduk di kursi belakang, alhamdulillah saya tidak mual, karena sepanjang perjalanan saya pakai buat tidur ayam: bus mulai sering nyalip dan saya deg-degkan luar biasa. Hal yang paling mengasyikkan saat duduk di kursi belakang, saya merasa bagaikan naik roller coaster skala kecil. Waktu ada turunan, berasa ngilu euy. Perjalanan naik lalu turun ini berada di sekitaran Banjar Negara menuju kota Wonosobo.


Dan, finallyalhamdulillah kami sampai di rumah kakak saya pukul 03.00 subuh. Mau tahu, saya jalan-jalan ke mana saja setelah sampai di Wonosobo? klik di sini ya

Hangout Seru di Paviliun 28



Alhamdulillah, akhirnya saya memenangkan giveaway nonton film Kartini, bareng Gita Gutawa yang diselenggarakan oleh portal berita merahputih.com. Karena masing-masing pemenang mendapatkan dua tiket. Saya mengajak teman saya untuk menemani kesepian saya. Eits, kalem, masih mahram kok. Saya ajak Mba Tree untuk bertemu di TKP, Plaza Senayan. Setelah kami menonton, kami buru-buru beranjak dari Plaza Senayan untuk mencari makan di luar Mall. (karena makan di mall terlalu sudah biasa buat saya dan Mba Tree) Buat yang penasaran review sama film Kartini, kamu bisa cek di sini ya.


Menuju parkiran, saya dan Mba Tree terlalu bingung menentukan tempat kulineran yang asik buat kami jajahi. Saya menawari Mba Tree untuk singgah di Paviliun 28, karena saya sudah lama sekali tahu dan penasaran dengan tempatnya yang kerap saya lihat hanya melalui instagram. Juga dari youtuber, Bena Kribo yang mengadakan acara lamarannya di sana.
Motor saya melaju pelan-pelan dari arah dr. Moestopo menuju kawasan Blok M dan tibalah di Petogogan, Paviliun 28. Tada…

Saya agak kaget pas mau markir motor tepat di pintu depan Paviliun, Bo, parkiran motor di mana neeh? Yang saya lihat penuh dengan mobil yang terparkir rapi. Nggak lama saya keki karena parkiran motor, Kang parkir manggil saya dengan maksud parkiran motornya disediakan di tempat lain (yang entah itu rumah sopose). Oke and fine, saya disebrangi sama Kang Parkirnya. Untungnya saya nggak pake acara pegangan tangan dan nyebrang berdua sama Kang Parkirnya.


Paviliun 28 ini-itu, tempat yang signature menunya adalah jamu loh teman-teman, makanya ada tulisannya segede alaihim gambreng di dapurnya BAR JAMU! Nah, saya ke sini selain kepo sama tempatnya, saya mau nyobain jamu di mari! Yup saya suka jamu, ada yang nggak suka gitu?
Pas masuk, saya lagi-lagi keki sama suasananya, biasalah yah, anak-anak muda pas malam minggunya melipir di Paviliun 28 itu karakternya kayak gimana. Bau asap rokok defected dan saya lihat minuman keras, MIRAS, apa pun namamu.. tak akan kusentuh lagi dan tak akan kusentuh lagi.. (cie ngedangdut woy?)

Di Paviliun 28 ini, termasuk tempat hangout yang baru berjalan sekitar 3 tahun lho. Banyak musisi indie yang jamming di sini. Kadang, tempat ini juga dipakai buat launching buku, seminar, atau event-event lainnya. Mungkin buat kamu yang mau mengadakan gathering entah apa pun itu, bisa juga nih reservasi tempatnya.

Buat yang suka film-film indie, setiap hari Jum’at dan Sabtu, ada bioskop kecilnya juga. Yep, ada! Tapi bayarrrr, HTMnya 30 ribu.    

Selain ada beberapa jenis minuman jamu yang disediakan, di tempat ini kamu juga bisa memesan beberapa aneka makanan berat dan semi berat. Aish, pokoknya mau ngemal-ngemil di sini juga ada lah. Makanan berat yang saya pesan nasi bakarnya enak. Emaaf lho, Saya foto nasi bakarnya setelah saya lahap habis nasinya. Maklum keburu lapar, Cuy. Setelah makan kenyang, saya memutuskan untuk mencoba minum jamu. Tadinya saya pesan jamu nafsu makan yang cuman 15 ribu saja. Ternyata nggak ada. Dan saya pesan beras kencur seharga 25 ribu kalau tidak salah. Rasanya enak, beda dari beras kencur mbak-mbak jamu gendongan. 


Beras kencur naik kelas
Jangan khawatir nyari musala, di Paviliun ada tempat musalanya. Saya sempat ke kamar kecilnya dan lucu. Ada beberapa gambar jadul yang terbingkai dengan figura. Di Pavilun nuansa vintage-nya berasa banget. Bangku dan mejanya ala-ala jadul. 

Saat saya mengobrol lama dengan Mba Tree, ada seorang wanita yang mukanya tak asing lagi. Saya bertemu Kanya! siapa itu Kanya? bisa cek di sini ya
Dia tepat di belakang saya, agak lama sih mau nyapa. Dan akhirnya saya menyapanya, untungnya Kanya ngeh siapa saya, dengan memperkenalkan diri saya yang pernah chatt via twitter. Nggak lama, ada cowok juga yang wajahnya saya kenal juga, ada Bejana Waktu alias Anes.

Kanya ini artis soundcloud dan Anes itu seleb twitter kalau bisa dibilang. Doi terkenal aktif di dunia musik, beberapa band indie kenal akrab dengan Anes. Dan Anes itu temennya Michan juga. Michan teman kantor saya di Agromedia Group. Dan usut punya usut, si Kanya kenal Retno, salah satu teman blogger saya juga. Biasalah Cuy, dunia pertemanan saya sesempit ini. :D 

Saya dan Kanya cukup lama ngobrol. Saling tanya saja. Dan Kanya juga memperkenalkan teman band indienya dari Bandung yang akan tampil di sini, Garamerica. Karena saya dan Mba Tree diminta untuk menyaksikan jamming dari garamerica, kami mendengarkan beberapa lagu ciptaan mereka sendiri. Cukup menghibur malam minggu saya kali ini. Akhirnya bersentuhan langsung dengan Paviliun 28, akhirnya kopdaran sama Kanya dan Anes, dan kenalan dengan garamerica. Yaay!

Jika kamu ingin ke tempat ini, lokasinya di Jl. Petogogan No. 25 Kebayoran Baru-Jakarta Selatan. Boleh dimampirin kakak..

Pacaran itu ta'aruf



Awalnya saya agak kaget mengenal sistem perjodohan dengan sebutannya ta’aruf.  Semakin ke sini orang-orang sudah banyak yang mengklaim atau mengukuhkan istilah tersebut dengan ta’aruf sama dengan perjodohan islami.

Di sini saya mau mencerahkan istilah tersebut. Apa itu ta’aruf? Dalam bahasa arab artinya saling mengenal diambil dari kata a’rafa-yu’rifu (fi’il dan fa’il) artinya tahu/kenal. Dalam bahasa arab, satu kalimat di tengahnya ada huruf alif menjadi arti saling.

Nah, dalam perjodohan islami yang menyinggung kata ta’aruf.  Antara cowok-cewek yang bertujuan akan menikah, terlebih dulu berikhtiar untuk saling mengenal (ta’aruf) dengan cara yang islami, yaitu dengan adanya pihak ketiga yang merupakan mahramnya. Atau bisa juga dengan murabbi/murabbiah (guru ngaji). Dengan adanya pihak ketiga yang merupakan mahram ini, dalam urusan ta’aruf diharapkan pernikahan menjadi barakah. Karena melalui proses yang islami.

Jadi jelas berbeda antara ta’aruf dengan perjodohan islami. Bisa dikaitkan tetapi tidak untuk disamakan. Mungkin dengan penekanan kata syariah di belakang kata ta’aruf menjadi mudah dikenal dengan maksud perjodohan secara islami. Apa itu syariah? Yaitu menjalankan norma-norma secara hukum islam. Jelas sekali dalam islam kita tidak boleh berkhalwat (berdua-duaan). Dengan adanya ta’aruf syariah, tentu dalam ta’aruf kita membutuhkan pihak ketiga itu tadi, dan pastinya yang menjadi mahram kita ya! Oke, berarti ta’aruf syariah ya, yang membutuhkan pihak ketiga.

Nah, apa jadinya kalau ta’aruf tanpa pihak ketiga atau ta’aruf tanpa embel-embel syariah? Ya jadinya ta’aruf bukanlah sesuatu yang islami dong. Kencan/dating bisa disebut ta’aruf lho. Ta’aruf kan hanya istilahnya saja yang dalam bahasa arab artinya adalah saling mengenal. Kalau pacaran apakah juga bisa disebut ta’aruf? Kalau pacaran di dalamnya ada proses saling mengenal, saya rasa juga bisa dibilang ta’aruf. Sekali lagi ta’aruf hanya kata dalam bahasa arab yang artinya saling mengenal.

Saya hanya heran saja banyak quote yang bertebaran seakan ta’aruf itu sendiri suci. Padahal nggak juga. Bahkan banyak di antaranya yang tidak tahu jadi memversuskan kata ta’aruf dengan kata pacaran. Saya tergelitik melihatnya. Jelas, karena saya tahu apa artinya ta’aruf. Dan saya suka gemas dengan orang-orang yang lulus ta’aruf dan akhirnya mereka menikah. Mereka bangga dengan menjalankan perjodohannya secara islami, ta’aruf bilangnya. Padahal kalau disisipkan kata syariah/islami di belakang kata ta’aruf tentu lebih mudah orang membedakannya antara ta’aruf islami dan nonislami.

Lucunya, ada teman bilang: “Gue ta’aruf, tapi gue ketemuannya berdua dhan” Saya mendengarnya langsung membenarkan.  Ya nggak apa-apa, itu kan juga ta’aruf (saling mengenal) jika yang lo maksud ta’aruf harus ada pihak ketiga itu berarti ta’aruf islami.

Dengan adanya  kata ta’aruf yang membooming ini. Saya malah ingin mengkriteriakan jenis-jenis versi ta’aruf. Ada apa saja?  Cek this out ukht.

Ta’aruf versi islami: Tadi sudah dibahas apa itu ta’aruf islami ya. Jadi cowok-cewek yang tidak ingin berkhalwat bisa mengajak pihak ketiga, yaitu mahramnya dan terjadilah ta’aruf islami.

Ta’aruf versi tukar biodata: Tukaran CV, jadi yang ikhwan dan akhwat saling bertukar CV. Ini bisa dilakukan dengan ta’aruf versi islami dan yang nonislami ya. CV dibuat untuk ta’aruf tahap awal. Isi di dalam CV haruslah detil dan dengan jelas menjelaskan diri kamu, plus-minus kamu, tujuan nikah kamu, setelah menikah akan bagaimana, kriteria pasangan, dll. Silakan cari contoh CV ta’aruf via google.

Ta’aruf versi pacaran: Kalau pacaran islami tentu nggak ada ya. Adanya ta’aruf versi pacaran. Pacaran itu melanggar syariat islami, tentunya dilarang karena berkhalwat dan banyak mendapatkan mudharatnya. Ta’aruf versi pacaran jangka dosanya lebih lama daripada yang versi blind date/kencan. Karena akan sering bertemu dan bonusnya: bisa terjadi sentuhan, pegangan, dll.

Ta’aruf versi blind date/kencan: Nah, versi ini lebih banyak dilakukan oleh orang-orang yang usianya sudah matang dan tidak mau pakai kata jadian atau ujung-ujungnya pacaran. Untuk ta’aruf versi blind date/kencan ini, biasanya mereka suka kenalan dulu lewat chatt/telepon, dan ketemuan deh. Dari ta’aruf versi ini, mereka tentunya bisa langsung menilai pasangannya seperti apa. Dan, biasanya ta’aruf blind date ini cukup bertemu sekali dan dilanjutkan dengan ta’aruf melalui chatt/teleponan. Dengan waktu yang cukup cepat, kalau dirasa mereka menemui kecocokan, si cowok bisa langsung ke rumah dan melamarnya. Namun, bila tidak ada kecocokan biasanya pihak cowok/cewek yang akan mundur teratur (bisa tanpa pesan atau tidak sama sekali).

Nah, kamu sudah pernah ta’aruf dengan tujuan menikah belum? Kalau sudah, kamu termasuk ta’aruf versi mana nih?

Sabtu

Jalan-jalan ke Padang dan Pantai Malin Kundang



Awalnya sih, kepengenan kita geng Power Puff Girls pelesiran ke Sumatra Barat. Karena uni Sri Maria Ulfa salah satu personil geng kami yang punya kampung di Sumatra Barat, Ulfa mengusulkan untuk kami berdelapan mengunjungi kota yang orang-orangnya pandai berdagang tersebut.

Namun, keinginan Ulfa untuk pergi bersama rombongan Power Puff Girls tidak terealisasikan dengan baik. Satu-satu mengundurkan diri dengan alasan yang Ulfa dapat maklumi. Malahan saya, bukan orang yang ngoyo pengin banget pergi ke Padang dalam waktu dekat. Karena, sebelum saya resign, saya sangsi bisa ambil cuti panjang ke ranah minang. Beruntungnya, saya dapat resign sebelum saya dan Ulfa pergi ke Sumatra Barat.

Finally... kami order tiketnya via Traveloka sekalian balik ke Jakarta. Kami memilih maskapai yang bagus dan ongkos yang ramah tentunya. Alhamdulillah, kami dapat booking langsung untuk pulang dan pergi dengan maskapai yang berbeda karena kami tetep cari yang murah #teuteup. Cuss dapat tiket melalui email, memesan tiket via Traveloka ternyata gampang ya: tinggal isi formulirnya dan bayar deh.   

Hari H pun tiba. Karena saya nebeng Ulfa biar sampai ke Bandara, saya samperinlah ke rumah Ulfa. Adik Ulfa, si Miftah juga ikut pergi. Miftah yang memang kuliah di Unand (Universitas Andalas) harus masuk kampus, karena liburan panjangnya telah usai. Kami pun berangkat bertiga ke Sumatra Barat.

Dengan disopiri oleh Uda Faisal dan rombongan keluarga kecilnya yang juga ikut. Sampailah kami di Bandara Soekarno Hatta. Tepat setengah jam sebelum take off. Dari Pondok Kacang via Tol Ciledug. 30 menit cuy! Mungkin karena hari minggu, dan alhamdulillah-nya tolnya lancar jaya!

Dengan menaiki Pesawat Sriwijaya yang take off pukul 09.05 dan tiba di Padang sampai pukul 10.45 Kami dijemput Bang Iis, abangnya Ulfa. Tujuan pertama kami sesampainya di Padang adalah Mesjid Raya Sumbar dan Salat Zuhur di sana. Mesjid Raya Sumbar memiliki arsitektur yang unik, bentuk kubahnya berbeda dengan mesjid pada umumnya, berbentuk persegi dengan tiap sudutnya tinggi menjulang, seperti kekhasan pada rumah minang. Kalau kita lihat dari bagian mana pun kubahnya yang unik tersebut tetap berbentuk sama. 



Mesjid ini terbilang baru selesai dibangun, setelah peletakan batu pada tahun 2007. Pas saya datang ke sana, halaman mesjidnya sudah ada dan sedikit rerumputan yang menyembul dari tanahnya. Atas izin Allah, saya akhirnya bisa melihat langsung dan salat di rumah-Nya yang termasuk mesjid terbesar dan anti gempa di Sumatra Barat ini, yaay!

Lalu, kami melipir ke rumah makan yang tidak jauh dari Mesjid. Setelah perut-perut kami kenyang, Bang Iis dengan semangat 45 menyopiri kami berkeliling kota Padang, melewati Jembatan Siti Nurbaya dan mengililingi kampus Unand. Perjalanan keliling setengah kota Padang diakhiri dengan guyuran hujan.

Tujuan terakhir pertama kali menginjakkan kaki di Padang adalah rumah Ayang, entah kenapa tantenya Ulfa dipanggil dengan sebutan Ayang. Kami hinggap di rumah Ayang yang berada di Bandar Buat, tak jauh dari Pasar Bandar Buat. Saat itu matahari hampir tenggelam dan berganti kegelapan malam. Bang Iis dan keluarga kecilnya hanya mengantarkan saya, Ulfa, dan Miftah sampai rumah Ayang saja. Karena besoknya, Bang Iis dan istrinya sudah kembali bekerja di Pariaman. Sedangkan Miftah, malamnya sudah harus beristirahat di kosannya.  

Pantai Malin Kundang

Keesokan harinya, saya, Ulfa, dan Meri, anak sulung dari Ayang pergi ke Pantai Air Manis dengan menggunakan moda Padang, dari Bandar Buat naik angkot menuju Pasar Raya. Karena waktu azan zuhur telah tiba, kami salat di sekitar Pasar Raya, namanya Mesjid At-Taqwa Muhammadiyah 


Di Pasar Raya, kami mencari saudaranya Ulfa yang berdagang di sana. Dan kami sempat melewati alun-alunnya Padang. "Meri, itu apa?" saya menunjuki gedung yang atapnya khas rumah minang tersebut. "Tempat duduk-duduk, Kak." jawab Meri. Saya agak kurang percaya sama Meri, lalu saya jalan cepat mendekati gedung yang mirip Anjungan Sumatra Barat di TMII. Owh ternyata benar, gedung itu hanya untuk tempat duduk-duduk saja, tapi bukan sekadar tempat duduk. Gedung ini bisa saya sebut stadion bola terbuka. Soalnya, depan gedungnya ada tanah lapang.  



Lalu lanjut mencari angkot yang akan membawa kami ke tempat tujuan ke arah SMAN 6. Ada yang cukup unik pada angkot Padang: terdapat sound system yang abang sopirnya tidak sungkan-sungkan menyetel lagu remix padang dengan volume yang memekakkan telinga. 

Bayangin dong perjalanan dari Pasar Raya menuju TKP lumayan lama: 45 menit kuranglebih dan sepanjang jalan saya terpaksa mendengar lagu yang kencang tersebut. Duh Bang... congek gue mental deh nanti..

Setelah berhenti di SMAN 6, ada pangkalan ojek yang akan membawa kami ke Pantai Air Manis.  Di pangkalan ojek, saya hanya melihat bapak ojek seorang diri tanpa ada kawan-kawannya, sedangkan kami ada tiga orang. “Pak, berapa ke pantai air manis?” tanya Ulfa pakai bahasa minang. “20,000 aja dek.” jawab bapak ojeknya. Saya agak speechless mendengar kata 20.000, itu artinya ongkos naik ojek pulang-pergi 40.000, Cuy.

Yaudah deh, masa iya mau nggak jadi hanya gara-gara ongkos yang terlalu mahal itu. Akhirnya kami menunggu dengan sabar kedatangan geng motor ojek yang kurang dua orang. Perjalanan dari bawah ke atas agak-agak serem ya... jalanannya nggak lebar dan banyak kelokan untuk bisa sampai ke Pantai Malin Kundangnya. Dan, nggak mungkin geng motor ojeknya dibuat trek-trekan di medan yang terbilang serem ini. Lumayan jauh sih, dari pangkalan menuju lokasi. 15 menitan.  

Sampailah kami di Pantai Air Manis. Sepi euy. Iyalah, karena kami berkunjung bukan pada hari libur. Eh jadi saya kepo deh, kenapa pantai ini dinamakan Pantai Air Manis ya, ada yang tahu? 
Saya dan Ulfa penasaran dengan Malin Kundang yang sudah dikutuk jadi batu, pengennya sih, selfie kalau malin kundangnya belum jadi batu. Apa daya, pas ke sana si Malin udah jadi batu. 

Konon, Malin Kundang jadi batu karena dikutuk oleh emaknya. Pulang dari rantauan, si Malin terlena dengan harta dan wanita. Doi malu, lalu tidak mau mengakui emaknya yang miskin dan sudah tua renta itu. Emaknya sakit hati atas perlakuan anaknya dan berdoa agar si Malin menjadi batu saja, dan doa orangtua luar biasa kesaktiannya: terbukti Malin Kundang sudah menjadi batu. 

Ini bisa menjadi pelajaran buat kita agar tidak kurang ajar sama emak yang sudah melahirkan dan merawat kita hingga saat ini. (maafkan aku emaaak, yang belum bisa ngasih mantu sampai sekarang, -EH-) Fyi, kata kang foto di sana, bagian kepala si Malin sudah tidak asli lagi lho.


Pantai manis yang terlihat seru ombak-ombaknya membuat kami penasaran menyusuri pantainya saja tanpa main air di sana.




“Kalau ada sumur di ladang, bolehkah kita menumpang mandi, kalau ada umur yang panjang, bolehkah kita bertemu lagi?”