Jadi ceritanya, saya tidak berencana apa pun untuk
menghadapi tahun baru dengan jalan-jalan ke luar kota seperti tahun-tahun
sebelumnya. Pergi ke Wonosobo untuk mengakhiri dan
mengawali tahun baru adalah sebuah ketidaksengajaan karena melihat e-mail dari
kantor yang masuk, bahwa akan ada cuti bersama yang mengiringi tanggal merah
pada saat Natal dan tahun baru. Mulai tanggal 23 sampai 26 Desember 2017
dan keisi masuk kantor cuman dua hari yang terjepit di antara hari libur. Lalu,
mulai tanggal 29 Desember 2017 sampai tanggal 2 Januari 2018 libur lagi. Saya
merasa liburnya itu teramat panjang dan sangat kejepit sekali hingga saya
berpikir, “dari pada
sayang gini liburannya, cuman di rumah dengan estimasi hari libur yang lama,
lebih baik saya ke Wonosobo saja.”
Memutuskan long weekend untuk
pergi ke Wonosobo adalah pilihan liburan
yang murah dan tepat buat saya, dengan alasan: Pertama, akomodasi
yang murah untuk perjalanan ke luar kota pada peak season, karena
memang harganya tidak naik kalau long weekend seperti
ini. Kedua, tidak perlu repot untuk jauh-jauh hari mendapatkan
tiket bus yang available, karena bus ke Wonosobo dibuka pada satu waktu
kita akan pergi juga. Ketiga, saya tidak perlu menginap di
hotel dengan mengeluarkan biaya lagi, karena kakak saya tinggal di sana bersama
suami.
Saat saya berpikir akan jalan-jalan ke Wonosobo, jujur saya tidak terlalu
bersemangat dan excited seperti jalan-jalan ke kota lainnya.
Karena saya beberapa kali hinggap ke Wonosobo dan inginnya berkelana ke kota
yang belum pernah saya kunjungi. Walau sering saya berkunjung, namun ada beberapa spot objek wisata Wonosobo yang
belum pernah saya kunjungi. Dari dulu, saya kepengin banget mencoba hiking ke
gunung. Apalagi ini di Wonosobo, semacam gunung atau tempat-tempat tinggi di
sana adalah destinasi favorit bagi pecinta gunung. Tapi, karena liburan
(lagi-lagi) kali ini ke Wonosobo barengan saudara, kayaknya untuk hiking ke
Gunung nggak dulu deh. Iya, si Tante dan anaknya juga ikut, nggak mungkin juga
ke tempat-tempat tinggi hiking gitu.
Dari bulan kapan tau, hujan masih saja sering turun
di Wonosobo. Keinginan saya untuk pergi
ke Dieng, sepertinya tidak memungkinkan. Kakak saya bilang, di Dieng (atas)
masih kerap terjadi longsor, dan di Wonosobo hampir tiap hari turun hujan. Saya
sih pasrah saja akan ke mana nanti, yang ada di dalam pikiran saya adalah,
“saya mau menghabiskan liburan panjang ini tidak di rumah.” Udah gitu aja.
Tanggal 27 Desember 2017 pagi hari pukul 08.00 saya
dan ibu langsung cus ke loket Bus yang ada di Asrama Polri, Ciledug. Loket
memang dibuka pada pukul tersebut untuk yang mau pergi pada saat hari itu juga.
Seperti yang saya tulis sebelumnya, beli tiket untuk pergi ke Wonosobo “on the spot.”
Beli tiket bus ke Wonosobo, bukan hanya di Asrama Polri, di Pasar Lembang yang
dijadikan terminal untuk bus-bus luar kota juga dibuka pada pukul yang sama.
Bedanya, kalau ingin dapet duduk dengan kursi yang berada di depan, sebaiknya
membeli tiket dari Pasar Lembang Ciledug saja.
Sebenarnya saya ingin sekali memesan kursi di
depan, dan harusnya saya beli tiket di Pasar Lembang. Waktu ke Wonosobo sebelumnya, ada insiden
paling tidak adil bagi saya dan keluarga yang saat itu sudah membeli tiket bus
di Pasar Lembang. Kami mendapatkan kursi di depan dan saat sudah di bus, nomor
kursi kami jadi berpindah tempat ke kursi persis di belakang penumpang lain
yang menyelak. Ibu saya komplain ke loketernya yang saat itu kami naik bus dari
Asrama Polri (rule-nya memang bisa kok, beli tiket bus di Pasar Lembang,
dan naiknya baru di Asrama Polri). Anehnya, si Mbak beserta Sopirnya, tidak
mengindahkan keluhan Ibu saya (karena ibu saya yang beli tiketnya) terjadi
cek-cok mulut lah, tetap saja mereka yang tak mau kalah (jelas-jelas mereka
yang salah).
Setelah insiden yang tidak mengenakkan bagi saya
dan keluarga, yang entah bagaimana mereka bisa selicik itu, Ibu dan saya jadi
kapok untuk membeli tiket dari Pasar Lembang, ya takut-takut diperlakukan tidak
adil lagi dari pihak PT. Sinar Jayanya.
Dan... pagi hari itu, di tanggal alhamdulillah,
ibu saya tuntas membeli tiket bus ke Wonosobo. Seperti tidak disangka
sebelumnya, saya kebagian kursi belakang! Saya sudah mulai uring-uringan
melihat tiket yang sudah terbelikan oleh ibu.
Kalau yang tahu bagaimana rasanya berada di bus
dengan duduk di kursi belakang akan ada drama: pusing dan mual. Ya gimana lagi
ye kan, tiket sudah dibeli dan bersyukur masih mendapatkan tiket bus: karena
ini long wiken, pastilah penumpang akan penuh sekali. Dengan harga 100.000
menggunakan bus bisnis AC seat 3-2, Bus Sirna Jaya Jurusan Wonosobo akan berangkat pada
pukul 14.00. Penjelasan soal waktu keberangkatan, bagi saya, kali pertama
berangkat ke Wonosobo pada pukul 14.00.
Biasanya Bus Jurusan Wonosobo mulai jalan pada pukul 16.00. Kata loketernya
sih, karena long wiken dan di tol akan padat dengan kendaraan.
Sebelum pukul 14.00 saya dan saudara sudah standby di
Asrama Polri, menunggu bus datang. Telat setengah jam, bus akhirnya datang. Dan
sekitar 14.45, bus mulai berangkat. Terjadi kemacetan yang parah di Bekasi, bus
terus melaju hingga akhirnya sekitar pukul 19.30, sampailah di tempat ngasonya
Bus Sirna Jaya di daerah... (((duh lupa)))
Waktu yang disediakan hanya setengah jam
untuk ishoma, kami buru-buru shalat Jamak dan Qashar maghrib –
Isya, dan makanlah kami di bus yang sudah kami bawa dari rumah. Bus melanjutkan
perjalanannya dan terus melaju. Yang saya rasakan saat duduk di kursi
belakang, alhamdulillah saya tidak mual, karena sepanjang
perjalanan saya pakai buat tidur ayam: bus mulai sering nyalip dan saya
deg-degkan luar biasa. Hal yang paling mengasyikkan saat duduk di kursi
belakang, saya merasa bagaikan naik roller coaster skala
kecil. Waktu ada turunan, berasa ngilu euy. Perjalanan naik lalu turun ini
berada di sekitaran Banjar Negara menuju kota Wonosobo.
Dan, finally, alhamdulillah kami
sampai di rumah kakak saya pukul 03.00 subuh. Mau tahu, saya jalan-jalan ke
mana saja setelah sampai di Wonosobo? klik di sini ya