Sabtu

11 cara melejitkan rezeki tanpa pernah diduga



Entah kenapa saya selalu mendapati teman yang bilang saya banyak uang dan uangnya unlimited. Saya aminkan perkataan mereka. Kali-kali aja beneran. Alhamdulillah selama saya hidup digaji oleh Allah, saya bisa mencukupkan keuangan yang saya terima dari-Nya. Saya ingin berbagi tips dan pengalaman saya. 
Kenapa gaji dari Allah selama hidup, saya merasa cukup, terkadang sampai ada sisa uang di tabungan atau di tangan? Ini karena Allah Mahabaik sama saya. Dan, beberapa tips ini yang saya jalani ketika uang dari Allah saya terima. 

1. Mengelola uang dengan baik dan terencana. 

Ini sih yang paling utama dalam mengamankan keuangan kita. Mengelola uang yang kita dapati setiap bulannya, rada gampang-gampang susah. Jadi, ketika saya menerima gaji bulanan, seketika saya mengeposkan keuangan saya untuk pakai ini-itu. Semisal, gaji saya 7.000.000. Lalu apa saja pengeluaran yang akan saya gunakan dari gaji bulanan saya? 

a. Pos tabungan     : 2.000.000
b. Pos makan         :1.000.000
c. Pos ongkos        : 1.000.000
d. Pos orangtua     : 1.000.000
d. Pos entertain     : 1.000.000
e. Pos sedekah       :   200.000
f. Pos tak terduga  :   800.000

Contoh tersebut bisa kamu ubah sesuai kebutuhan pengeluaran kamu tentunya. Karena saya masih single, jadi untuk pos pengeluaran anak tidak saya cantumkan di atas. Tapi, saya sarankan untuk menyisihkan pos sedekah. Karena bagaimanapun sedekah itu yang mencukupkan rezeki kita.

2. Mengamalkan salat Dhuha.

Saya tidak berpikir kalau mau dapet rezeki yang baik, kudu melakukan ikhtiar salat Dhuha. Saya malah senang menjalankan ibadah ini, karena selain mendapatkan pahala ibadah sunah, saya merasa perlu bersyukur dengan melakukan salat Dhuha. Memang bentuk syukur berbagai macam caranya. Salah satunya melaksanakan salat Dhuha. 

Dari salat Dhuha, saya tidak sedang berhitung rezeki, kalau sudah salat Dhuha. Ya, biarkan Allah yang menetapkan rezeki saya ada di mana: entah kesehatan rohani dan jasmani, materi, keluarga, teman, dll. Yang saya rasakan sesudah salat Dhuha apa? Saya merasa tambah bersyukur saja, setelah saya mengalami berbagai kenikmatan dari-Nya.

Karena niatnya lurus maka Allah juga akan memberikan hasil yang baik juga. Jadi, jangan sekali-kali salat Dhuha karena mau dapet tambahan rezeki. Kalau bisa nih, niatkan bukan karena ingin dapat tambahan rezeki dari Allah, tapi niat memperbaiki rezeki. Ya, jadi tak semata-mata Allah saja yang memberikanmu rezeki, tapi kamu juga harus berusaha memperbaiki rezeki tersebut. 

3. Memberikan uang/makanan/hadiah kepada orangtua.
Kalau kamu berpikir memberikan uang kepada orangtua membuat rezekimu berkurang, hal itu salah besar. Justru, dari sinilah nilai keberkahan rezeki kita ada pada doa orangtua. Dan, hal ini termasuk dalam kategori sedekah. Ingat firman Allah, 

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah. Adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji, Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QSAl-Baqarah: 261)

Jangan berpikir uang yang kamu berikan kepada orangtuamu sebagai bentuk bakti. Hal ini tentunya tidak bisa kita bandingkan dengan pengeluaran dan usaha keras orangtua dari melahirkanmu sampai kamu bisa menghasilkan uang sendiri. Niatkanlah hal ini sebagai keridaanmu untuk membahagiakan orangtua. Jika orangtua senang dengan pemberian darimu: uang/hadiah/makanan. Allah pun akan senang denganmu. Jika Allah senang, Allah tak akan berpikir panjang untuk memberikanmu kebahagiaan. 

4. Membeli dagangan yang tidak kita inginkan.

Kalau kamu sering jalan naik angkutan umum atau jalan kaki di pinggir jalan. Pasti akan kamu temui pedagang yang sudah tua renta dan masih menjajakan dagangannya dengan tampang memelas. Namun, tetap semangat duduk menanti pembeli. 
Jangan lewatkan momen ini hanya sekadar iba atau berdoa semoga dagangannya laku. Manfaatkan momen ini dengan membeli dagangannya. Ya, walaupun kamu tidak membutuhkannya. 

Belilah dulu, butuh nggak butuh urusan belakangan. Toh, kalau kamu memang tidak membutuhkannya, kamu bisa memberikannya kepada yang lebih membutuhkannya. Setelah kamu beli, kamu beri ke orang lain yang membutuhkannya (pengemis), ma sya Allah, pahalamu jadi berlipat-lipat. Apa yang kamu tunggu?    

5. Melebihkan uang untuk penjual yang terlihat susah payah.

Kalau tadi, saya singgung ke pedagang yang sudah tua renta. Sekarang, saya menyinggung pedagang yang masih muda, tetapi bersusah payah dalam mencari rezeki. Suka lihat pedagang yang masih memikul dagangannya dengan berjalan kaki? 
Kenapa nggak pakai gerobak dorong atau sepeda biar memudahkan usahanya? 
Saya malah sempat berpikir seperti itu. Namun, bukankah rezeki orang itu beda-beda. Mungkin mereka yang berdagang dengan memikul belum punya uang yang cukup untuk membeli gerobak atau pun sepeda. 

Saya sering lho, melihat pedagang lemari kecil, kaca-kaca besar dipikul dan ia berjalan kaki di tengah teriknya matahari. Saya terenyuh melihatnya. Sayangnya, saya hanya bisa berdoa untuknya. Dan, pedagang seperti itu sebaiknya jangan ditawar lagi dagangannya. Tapi, tetap saja masih ada yang tega menawarnya. Padahal mereka sudah susah-payah berdagang keliling dengan jalan kaki. Alangkah baiknya, kamu tambahkan uangnya sebagai ganti jihad mereka berjualan. Memberi tip kepada pelayan jasa saja kamu tak keberatan, kok ini melebihkan untuk pedagang keliling kamu tak mampu memberikannya. Siapa tahu, sepanjang perjalanan mereka berjualan, ia tak henti-henti berdoa untuk kebaikanmu.  

6. Memberikan uang ke pengamen.

Suka risih nggak sih, ada pengamen anak jalanan, bernyanyi dengan suara parau? Bukannya menikmati alunan lagunya, yang ada malah tambah emosi. Apalagi saat menikmati makanan pinggir jalan atau saat di angkutan umum mau tidur. 

Boleh saja marah, tapi jangan diluapkan ya. Ketahuan kamu tidak menghargai nyanyian mereka bahkan bisa menyakiti hati mereka yang berniat mencari nafkah. Saya lebih menghargai pengamen lho yang ada usahanya untuk mencari rezeki ketimbang pengemis di jalan yang terlihat sehat-bugar. Lagian, nggak semua pengamen kan memiliki suara merdu layaknya Istiana. Nah, coba deh beri penghargaan usaha mereka dengan memberikan uang yang receh bagimu, tetapi berharga buat mereka.

7. Memberikan uang kepada pemulung.

Paling kasian kerja jadi pemulung. Mainannya sampah dan barang-barang bekas, pasti kotor dan bau. Terbiasa bagi kita menutup hidung saat melewati pemulung. Iya apa iya? Lagian, bukan mau mereka jadi pemulung kan, yang setiap harinya bergumul dengan sampah. 

Hebatnya pemulung, karena sudah terbiasa, mereka jadi kebal sama bau sampah. Sayangnya, kebanyakan orang saat bertemu dengan pemulung, tangannya dibuat untuk menutup hidungnya sendiri, padahal lebih baik tangannya dipakai untuk memberikan uang kepada pemulung dengan cara yang santun. Pasti pemulung itu akan senang dan kita pun juga akan senang saat melihat senyumnya mengembang. Kalau hati sudah senang hati-hati jatuh hati #lah. 
8. Silaturahim.

Siapa yang setuju kalau silaturahim memperluas rezeki? Saya setuju banget. jangan dikira rezeki hanya soal materi ya. Ketemu teman-teman lama itu mengasyikkan lho, kita bisa mengasah kemampuan komunikasi kita saat bertemu dengan teman lama. Asalkan nggak gibah ya. Kalau ketemu teman lama, pastinya kita jadi cerewet mengajukan beberapa pertanyaan untuk mereka. Dan, dari hasil obrolan bukannya tidak mungkin, temanmu akhirnya membantu kesulitanmu: jodoh, materi, pekerjaan, dll. 

Teman lama yang lama tidak kita kunjungi akan senang apabila kita bersoan ke rumahnya lho, apatah lagi kita membawakan makanan untuknya. Mereka tentunya akan berterimakasih kepada kita. Dan, kalau teman kita bahagia, kita juga ikutan senang, kan? Kali aja, setelah dari rumahnya, beberapa pekan kemudian, teman kita mengajak makan-makan di rumahnya. Makan dibalas makanan, cuy.
     
9. Menginfakkan uang di mesjid.

Kalau kamu lagi jalan-jalan dan salat di Mesjid. Banyak mesjid yang menyediakan kotak amal. Entah untuk infak mesjid itu sendiri, sedekah yatim-piatu, atau kaum dhuafa. Sedekah itu banyak jenisnya, termasuk infak mesjid. Nah, selesai salat, barang 1000-2000 perak, lebih baik duitnya kamu tabung di kotak amal. Mana mungkin sedekah membuat kamu jatuh miskin. Ya, hitung-hitung saja kita nabung untuk amal kebaikan kita. 

10. Mentraktir teman jajan atau makan-makan. 

Siapa yang sukanya mentraktir teman? Haha pasti dikit sih yang hobinya mentraktir teman, malah justru kita sukanya ditraktir. Hari gini nolak yang gratisan? Pamali. 

Tapi, apa salahnya coba mentraktir teman sekali-kali, tentunya selain ada momen milad kamu ya. Nggak usah traktir mahal-mahal agar membuat temanmu senang. Coba saja misalkan traktir jajanan kesukaan teman kamu, nggak bakal nolak deh. Yang murah-meriah aja. Kalau teman sudah senang, in sya Allah didoain baik-baik, dan minim perselisihan.

11. Membantu teman pinjam duit atau memudahkan urusan orang lain.

Lagi senang, teman didekati. Lagi susah, teman dijauhi. Atuhlah jangan kitu nyak. Nggak baik juga sih modelnya kayak gitu. Dan, kamu jangan menjadi salah satu tipikal teman seperti itu ya. Kalau memang kita masih punya duit dan kebetulan teman lagi butuh duit. Apa salahnya meminjamkan untuknya. Kalau pun tidak ada, bilang saja: "Sisa uang gue cuman segini, say." Itu lebih baik diucapkan dari pada bilang: "Yah, gue lagi nggak ada duit." Tapi, besoknya kamu posting makanan enak di media sosial. Hal itu malah jadi nggak aman buat pertemanan kamu.

Jangan ragu untuk membantu teman yang sedang kesusahan ya. Kalau kita membantu kesusahan orang lain, Allah juga akan membantu kita di saat susah lho.

Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Muslim).

11 cara itulah yang saya pernah terapkan dan alhamdulillah rezeki dari Allah datang tanpa pernah diduga. 

Jumat

Keliling Kota Jakarta Pusat Naik City Tour


Hari sabtu libur. Mau ke mana? Mau keliling Jakarta Pusat. Yaay!

Jadi, hari ini saya bersama teman kantor ingin banyak meng-eksplore beberapa tempat yang ada di Jakarta. Walau, ada beberapa tempat yang sudah pernah saya datangi. Beda cerita kalau jalan-jalannya sama teman kantor. Ye kan?

Pagi-pagi harusnya masih bisa lama ngendon di kasur, terpaksa nggak tidur lagi setelah Shalat Subuh. Rajinnya saya sebelum pergi, nyuci baju dulu yang udah segunung belum tercuci.
Pukul 07.15 tepatnya, saya sudah mengendarai motor dan numpang naru motor di Stasiun Pasar Minggu. Destination pertama adalah Halte HI. Dari Stasiun Pasar Minggu ke Sudirman, sampai di Stasiun Sudirman dan ketemu sama crew Qultum. Terus, kami jalan menuju Halte HI buat naik City Tour alias Trans Jakarta, GRATIS! Kalau mau ke mananya, kudu tanya dulu ya. 



Karena kami ingin ke Museum Nasional alias Museum Gajah. Kami tanya, “Ke Museum Nasional, Mas?” Iya, jawabnya. Cus kami naik ke lantai dua. Busnya tingkat lho. Di lantai dua nggak boleh berdiri ya, nanti ditegur, kayak saya kena teguran gegara mau foto sambil berdiri –yang ceritanya norak mau selfie di bus tingkat—hehehe. 

Sampai di Museum Gajah, dulu saya pikir Museum Gajah ini museum yang banyak gajah-gajahnya, ternyata bukan! Jadi, Museum Nasional alias Museum Gajah ini adalah museum yang lengkap tentang budaya Indonesia, jadi apa aja ada. Awal masuk itu banyak patung-patung dewa-dewi, arca-arca dan prasasti. Di tempat kedua saya melihat keramik-keramik, rumah-rumah adat, batik, dll.



Waktu Kunjungan
Senin dan hari besar nasional : Tutup
Selasa - Jum'at : 08.00 - 16.00
Sabtu - Minggu : 08.00 - 17.00
Tiket Masuk
1. Pengunjung Perorangan :
a. Dewasa : Rp 5.000,-
b. Anak-anak : Rp 2.000,-
2. Pengunjung Rombongan (minimum 20 orang)
a. Dewasa : Rp 3.000,-
b. Anak-anak (TK s.d. SMA) Rp 1.000,-
3. Pengunjung Asing Rp 10.000,-


Next destinationGKJ (Gedung Kesenian Jakarta). Masih mau yang grastisan, so yaa, we took a city tour againAlhamdulillah-nya, pas pulang pas bus nya berhenti di halte. GKJ letaknya nggak jauh dari Pasar Baru. What we were doing? Kami pikir, GKJ adalah tempat umum yang bisa siapa saja keluar-masuk layaknya museum. Ternyata GKJ, hanya boleh di kunjungi ketika ada suatu pertunjukan di dalamnya, tentunya yang masuk juga orang yang mendapatkan undangan. Then, we just look around and take a pict



Lanjut ke jalan veteran, psstt ada yang belum pernah nyobain esnya lho. Bukan… bukan saya. Saya pernah sekali menikmati Es Ragusa waktu masih unyu-unyu #tsaah
Berhenti di Halte Mesjid Istiqlal dan jalan melurus darinya. Nggak jauh kok, terus belok kiri deh deket kali. Maybe because today is Saturday, holiday time is full of people. Untungnya nggak ngantri, langsung dapat tempat duduk. Saya pesan Es Spaghetti harganya 35.000.


Es Ragusa adalah es yang tanpa bahan pengawet, ini es jadul lho. Sampai sekarang masih hitz di tengah-tengah Ibu Kota Jakarta. Datang ke Indonesia sejak tahun 1932 – kebetulan saya belum lahir. Jadi saya tahu infonya dari google –
Es produk italia ini, membuka toko kali pertama di sekitar Pasar Gambir. Selain Es Jadul Ragusa, ada namanya Es Oen yang di Malang dan di Semarang, saya juga pernah mencobanya. Dan Es Zangrandi yang ada di Surabaya – yang ini belum saya coba –   

Sudah habis makan yang seger-seger, lanjut makan dulu sebelum Shalat Zuhur. Udah pada kelaparan. Makan yang di pinggir kali itu saja, ketoprak. Karena saya bawa bekal, saya numpang makan saja.
Di Mesjid Istiqlal. Tahu dong ya mesjid terbesar se-Asia Tenggara ini? Kami Shalat Zuhur di sana.  



Setelah di Mesjid Istiqlal, kami mau ke Museum Bank Indonesia. Karena museumnya tutup pada pukul 16.00 WIB dan kami tiba di sana pukul 15.00, tinggal satu jam dan masih dalam antrian panjang. Sepertinya waktu berkunjung ke Museum BI tidak nutut alias nggak keburu. Jadilah kami melaksanakan Shalat Ashar di Mesjid BI. Kali pertama ke Mesjid BI yang di Kotu (Kota Tua) suka sekali sama mesjid ini. Terang, adem, bersih. Pokoknya nyaman banget saya shalat di sini. Karena bukan kubah dan hanya kaca-kaca jadi nampak terang, tapi nggak silau. 


Selesai shalat, kami melanjutkan perjalanan kami ke Kota TuaJust walk around take a pict dan makan tahu gejrot sambil ngemper. Tahu gejrotnya enaakkk. Karena di Kota Tua menjadi destination terakhir kami. Saya dan teman-teman menikmati perjalanan ini. Ini hari sabtu, so pasti Kota Tua dipenuhi anak-anak muda. Dan, juga banyak saya temukan bule-bule berkeliaran di Kota Tua.


Saya lahir asli di Jakarta. Sebagai tanah kelahiran saya, saya malah belum banyak meng-eksplore landmark Jakarta lho. Saya selalu jalan Mall to Mall yang entah windows shopping or exactly shopping. Namanya juga Jakarta, Mall terbanyak se-asia. Hhhh. 

Selasa

Makan-makan di Bogor


Harusnya saya pergi bisa lebih pagi lagi. Karena teman saya, Yopi masih dalam kondisi pengumpulan nyawa setelah tidur, jadilah saya memanfaatkan momen nunggu dia sambil nyuci baju yang sudah menumpuk.

Pukul 11 pagi saya sudah sampai di Stasiun Pasar Minggu dan berhenti di Stasiun Bogor. Kami shalat Zuhur dulu, jadi nanti kami bisa langsung daur (arti dalam bahasa arab keliling) kulineran gitu.

Awalnya saya memang ingin mengajak Yopi untuk menikmati kulineran di sekitar kawasan Jalan Pangrango naik angkot 03, tapi karena saya penasaran dengan tempat lain, googling lah saya di blog. Dilihat di blog seseorang tak saya kenal, ketemu tempat makanan pinggiran jalan dengan tenda-tenda gitu. Katanya ada: laksa, soto kuning, toge goreng, dll di jalan surya kencana.

Saya dari stasiun naik angkot 02, macet ya ternyata hari Minggu. Sampai di Jalan Surya Kencana, saya jajahi sepanjang jalanan itu. Saya pikir, nama jalan itu berada di pinggiran jalan raya. Eternyata, saya masuk ke dalam kawasan 'pasar'. Panas-panas kami jalan, demi yang katanya ada banyak makanan di sana.
Before it kami nyasar dong, kami pikir di Jalan Surya Kencana memang pasar saja, nggak percaya karena ada tempat makanan yang banyak di sana. Saking keasikan jalan, tibalah kami di Jalan Juanda.

Dari pada tersesat di jalan, si Yopi akhirnya tanya ke mas-mas yang masih jomblo. Dan, memang tempat awal yang kami susuri tadilah (Surya Kencana) yang banyak makanannya. Kami saling melempar pandangan tidak percaya di Jalan Surya kencana yang nampak pasar katanya ada banyak tempat makan.

Saking kesenyal nggak nemu-nemu itu tempat makan, dan kami keburu lapar. Jadi, ketika ada tempat makan nasi gitu, kami langsung berhenti. Kami makan soto kuning yang tidak jauh dari Gapura Surya Kencana sebelah kiri jalan. Rasanya biasa saja, karena lapar, saya tumben-tumbenan menyisakan nasi sedikit. Hehe.
FYI, sebenarnya di Jalan Surya Kencana memang ada banyak tempat makan, dan sudah ramai mulai dari pagi. Adanya di Gang Aut. Coba deh ke sana. Next, mungkin saya akan ke Gang Aut yang berada di Jalan Surya Kencana.  

Setelah kenyang, Yopi penasaran dengan Jalan Pangrango kawasan banyak tempat makan yang terkenal di Bogor, salah satunya Kedai Kita. Naik apa dari jalan Surya Kencana? Kami naik angkot 02 arah stasiun. Karena saya tahunya, kalau ke Jalan Pangrango naik angkot 03 dari stasiun. Hehe

Lanjut naik 03 menuju Jalan Pangrango, sampai di sana. Yopi tidak berminat makan di kawasan itu, kami coba jalan menyusuri Jalan Pangrango, karena niat kami memang mau berhenti makan di Sop Duren Lodaya walau di depan kosan saya di Cilandak ADA, namun Yopi sudah keburu ngidam mau banget makan itu duren. Hhh
Ternyata jalan berdua menuju Jalan Padjajaran tidak begitu jauh dari Jalan Pangrango. Dan sampailah kami di Sop Duren Lodaya.



Dari Sop Duren Lodaya mau ke mana lagi? Yang jelas kami mau nyobain Bakso Seuseupan, agak jalan dikit dari Sop Duren Lodaya. Tepat di Fat Bubble, kami naik angkut 08, bilang ke pak sopir; Bakso Seuseupan. Nggak pakai nyebrang lagi, sudah terlihat bacaan Bakso Seuseupan alaihim gambreng. Lagi-lagi penuh manusia, maklum hari libur.


Makan bakso sudah. Tinggal nyebrang naik angkot 08 ke arah stasiun. Yopi ngidam mau lihat Rusa di Istana Bogor. Sempat turun dan kasih makan si Rusa. Lanjut ke stasiun, nggak pakai angkot! tinggal jalan kaki aja deh. Dan, kami pulang.


Itulah perjalanan kami setengah harian di Bogor, kota hujan. Untungnya pas ke sana cuaca cerah dan nggak turun hujan. Persiapan saja yang mau ke Bogor bawa payung lipat ya. 
Jangan malu-malu bertanya ke kang asongan, sopir, security, orang di jalan, orang yang masih single, orang yang galau. Ya! pokoknya jangan malu bertanya.

Menunggu

Menunggu itu bukan berteman dengan sepi, tapi berteman dengan sebuah harapan. Entah pasti atau tidak pasti.

Senin

Untuk yang Pertama Kali Datang ke Lombok (4 Hari 3 Malam)

Goes to Lombok
Rasanya ngidam dan akhirnya kesampaian itu… memuaskan!
Saya pergi berempat dengan Tina and her friends memakai moda pesawat garuda (PP). Dan memakai jasa tour travel ini.
Tiba di Bandara Soetta kurang lebih pukul 04.30 dan boarding time 05.30 karena menunggu Fani dan Wulan yang terlambat reconfirm dan akhirnya terkendala waktu, tiket saya dan Tina di-upgrade menjadi kelas bisnis. What a heaven!
Dan, ternyata di kelas bisnis saya bersama dengan orang-orang kementerian kesehatan yang hanya berjumlah lima orang. Ternyata saya di kelas yang sama bersama orang penting, dan semoga ketularan pentingnya. Aammiinn. 



Sampai di Lombok, 
Hari pertama langsung ke tiga gili buat snorkeling!
Gili Nanggu, sudak, dan kedis. Sama ke Pulau Bintang. 
Menuju Gili Nanggu, kami memakai private boat. Pada hari pertama ini, saya sekalipun tidak berani snorkeling untuk melihat terumbu karang yang berada di tengah laut. Ini di luar perkiraan saya. Saat saya snorkeling di Karimun Jawa, saya malah berani nyelam. Ini mungkin berpengaruh secara psikologis seseorang yang takut sama kedalaman laut ya? Ya nggak sih? Kalau di karimun jawa, boat berhenti di tengah laut. Jadi, mau nggak mau saya harus berani nyelam. Beda saat saya berada di Gili ini, saya malah harus berenang pelan-pelan untuk menuju ke tengah laut dan itu saya tidak lakukan, walau memakai pelampung. Ngebayangin tiba-tiba udah di dalam laut gitu, ngeri.




Gili Sudak, ini yang bikin gemes! jadi, pas sampai di gili ini, banyak orang bulenya. Kami memanfaatkan momen ini untuk take a pic. Namanya juga antusias ke Lombok pertama kali, jadi wajar kami banyak melakukan foto session di sana-sini. Dan, pas kami doing that persis di belakang kami, ada salah satu nenek bule yang mau berjemur bilang gini ke kami, “Bisa tidak jangan mengganggu, saya butuh privasi di sini.” Ternyata Si nenek ini cakap berbahasa.
Jleb! Entah kenapa radar emosi marah saya melemah ketika si nenek bule itu lebih berkuasa? Ah.. padahal saya ke Lombok bayar, dan ini pulau kami (Indonesia). Kalau nggak mau diganggu, ya jangan ke pantai di tempat umum kayak gini!
Harusnya pada saat itu, saya lawan perkataan nenek bule yang tidak tahu diri tadi. (&j*&mj^5#@)  


Selanjutnya Gili Kedis. Pulau ini unik, kalau dilihat dari atas Gili Kedis, pulau tersebut akan nampak berbentuk seperti hati. Sebenarnya, tidak dilihat dari atas Gili Kedis pun, pulau ini nampak indah. Mungkin karena kami ke sana pada hari Kamis, jadi Gili Kedis tidak terlalu ramai pengunjung. Di sini, saya tidak snorkeling saya manfaatkan di Kedis buat main air saja.






Setelah berada di ketiga gili tadi, kami menyusuri Pulau Bintang di mana banyak bintang lautnya. Si Boatman mengambilnya untuk kami, kali pertama saya memegang langsung si Patrick, awalnya agak takut-takut gitu buat megang jenis hewan yang nggak tahu di mana letak mata atau hidungnya ini. Karena saking penasaran sama ciptaan Tuhan ini. Saya beranikan diri untuk memegangnya.  

Setelah melalui tiga gili, lalu kami mandi di pemukiman orang lain. Dan buru-buru berburu sunset di Pelabuhan Ampenan. Sampailah di Pelabuhan Ampenan, ternyata ramai orang sekadar duduk-duduk santai menikmati sunset.


Setelah puas menikmati sunset di Ampenan. Kami melanjutkan perjalanan menuju Hotel, namun karena perut-perut kami mulai lapar. Kami berhenti dulu di sebuah restoran dan makan ditemani hujan. Alhamdulillah, hujan turun setelah kami puas berjelajah pada hari pertama di Lombok dan diakhiri dengan tidur di Hotel Pratama,

Hari Kedua.
Kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Taman Narmada (dibaca Narmade), merupakan Taman terbesar yang berada di Nusa Tenggara Barat. Di Taman ini, saya menemukan pemandian besar untuk raja dan permaisurinya yang saat ini dijadikan kolam renang untuk masyarakat umum. Saat saya melewati pemandian tersebut, kolam renang sedang dibersihkan, dan saya takjub karena kolamnya yang begitu besar dan dalam. Dan, saya juga melewati Telaga Seger yang katanya Telaga tersebut adalah replika dari Danau Segara Anak yang berada di atas Gunung Rinjani.  




Selanjutnya, perjalanan menuju Pelabuhan Tanjung luar, persiapan menuju Gili Petelu, Pantai Pink, dan Pulau Pasir.
Pulau-pulau yang saya kunjungi pada hari kedua ini, lebih keren dari pada hari pertama. Air laut yang saya lihat berwarna hijau jernih, mungkin karena airnya dekat pasir jadi terlihat bagus. Kami berhenti di tengah-tengah laut untuk mengambil si Patrick alias bintang laut. 



Oya, untuk yang suka snorkeling santai, menuju Pantai Pink sepertinya lebih asik deh. Karena airnya yang jernih bersih sampai kelihatan terumbu karang dan dengan air laut yang tidak begitu dalam.
Saya lebih suka berada di Gili Petelu. Kami lalu mendakinya, dengan susah payah melewati ilalang yang menusuk-nusuk pakaian kami, dan Ma Sya Allah, kami melihat hamparan laut dengan luar biasa keren.

Gili Petelu dari Kejauhan

Mendaki di Gili Petelu
Lalu, menuju Pantai Pink. Disebut Pantai Pink karena pasirnya yang berwarna pink. Pas kaki ini mendarat, Ma sya Allah pasirnya sangat lembut, nyaman banget buat diajak lari-larian. Sebelum mendaki ke spot yang lebih amazing buat photo session, kami makan di Pantai Pink yang sudah dibeli sebelumnya di pelabuhan Tanjung luar.
Foto di atas bukitnya lebih bagus lho. Wajib foto buat kalian yang suka menikmati keindahan hamparan laut dari atas bukit.

Pantai Pink 1



Lanjut ke Pantai Pink dua. Ternyata, Pantai Pink ada beberapa pantai. Pantai Pink dua pasirnya lebih lembut dari pantai pink yang pertama. Iya banget! Saya sangat suka di Pantai Pink dua ini. Ketika kami sampai, tidak banyak orang yang mendarat di Pantai Pink. Sepi.



Setelah menjelang sore, perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Pasir, kemungkinan sih, di setiap perairan akan ada Pulau Pasir. Jadi, semacam pasir yang berada di tengah-tengah laut gitu. Pulau Pasir Lombok bersebelahan dengan Pulau Ular, pulau yang memang banyak ularnya.
Mendarat di pulau pasir, kebetulan pas lagi sepi pulau pasirnya, jadi seakan milik kami saja pulau ini.



Karena kami main basah-basahan, jadi kami kudu mengganti celana yang basah di Pelabuhan Tanjung luar.
Setelah puas menjelajah pulau-pulau pada hari kedua, kami makan malam khas Lombok yaitu, Sate Rembiga.

Sate Rembiga Khas Lombok
Hari ketiga. 
Sebelum persiapan buat snorkeling (lagi) di Gili Trawangan, saya dan Tina mau menikmati sunrise di Hotel. 



Ok, setelah pagi kenyang tidur, saatnya kami jelajah Lombok lagi. Perjalanan kami ke Gili Trawangan, melewati Hutan Wisata Pusuk. Hutan yang banyak monyetnya. Sepanjang perjalanan melihat monyet-monyet kongkow di pinggiran jalan. Agak ngeri ya, lihat monyet-monyet itu tiba-tiba diem di tengah jalan, dan Pak Tris harus mengklakson beberapa kali biar si monyetnya pergi. Kami sempat berhenti dan tidak turun dari mobil, untungnya kami membawa cemilan dan memberikannya ke monyet itu. Jangan lupa nih, kalau kalian melewati hutan Pusuk, untuk membawa makanan buat si monyet ya...


Dan, kami sampai di Pelabuhan Bangsal, yang akan membawa kami menuju Gili Trawangan. Sampai di Gili Trawangan. Mas Hendra tour guide kami, membawa kami ke agen travel khusus untuk snorkeling gitu. Jadi ramean lah kami dalam satu kapal. Setelah mengambil pelampung, kami duduk manis nunggu kuota yang akan snorkeling. Jadi, kebanyakan turis asing gitu deh. Di dalam kapal ini olengnya lumayan banget. Saya sarankan untuk kalian yang mau snorkeling ke Gili Trawangan buat minum antimo dulu ya. Apalagi yang gampang mabuk laut. Kudu prepare mual-mualnya. Hindari minum susu, keju, kopi sebelum snorkeling. Usahakan makan nasi. Karena saya setelah snorkeling di Gili Trawangan, saya muntah saudara-saudara. 




Akhirnya saya snorkeling juga di lombok, hore! Karena kapal lautnya berhenti di tengah-tengah laut, saya jadi berani buat nyemplung dong. Dan rasa penasaran saya terpuaskan. Saya melihat keindahan terumbu karang yang berada di bawah laut. Terumbu karangnya banyak dan bagus-bagus. Tanpa kami sadari, kami berenang cukup jauh dari kapal laut. Dan, terpaksa capek buru-buru berenang ke kapal lautnya. Yang nggak banget adalah si boatman-nya itu tidak menyemplung untuk membawa kami ke kapalnya. Justru kami yang susah payah berenang menuju kapal. Padahal kami bertiga (saya, tina, wulan) tidak jago berenang.

Drama snorkeling di Trawangan sudah selesai, kembali ke kapal. Saya mulai mual dan muntah. Untungnya si Fani membawa permen rasa mint dan keadaan saya cukup membaik.
Lanjut ke Gili Menosnorkeling melihat penyu. Karena saya masih mual, saya tidak snorkeling lagi.
Terakhir ke Gili Air. Di Gili Air, kami istirahat. Iya, break dulu, ngilangin mabok laut. Ah untungnya, istirahat kami di restoran, Saya sekalian makan siang. Saya memesan capcay dengan nasi. Cukup lama di Gili Air, kurang lebih satu jam untuk singgah di Gili Air.

Gili Air, Depan Restoran Gili Air
Kembali ke Gili Trawangan, buru-buru kami pergi lagi menuju Pelabuhan Bangsal. Nah, di sini kami baru bisa mandi.  Lebih tepatnya numpang mandi di masjid. Hehe.
Waktu itu sudah sore. Jadi kami mau berburu sunset di Bukit Malimbu. Yap! Di Bukit Malimbu.
Malimbu ini beda, bagus banget nget! Bisa lihat hamparan laut juga. Pas hari sabtu menuju malam minggu sih, jadinya banyak muda-mudi yang mampir ke mari juga.  Saya sempat membeli gelang mutiara KW, 100.000 dapat empat. Itu juga karena nawar.



Setelah puas dengan keindahan sunset di Malimbu, kami meneruskan perjalanan ke tempat oleh-oleh makanan, di Lestari. Dan menghabiskan malam pada hari ketiga di RM Bebek Galih.

Pada hari keempat ini, kami mulai check out dari hotel pukul setengah 10 karena sekalian membeli Sate Rembiga untuk oleh-oleh orang rumah. Ternyata Sate Rembiga sudah mulai buka pada pukul 09.00. Tujuan awal pada hari terakhir ini adalah Desa Sade. Desa yang dihuni oleh penduduk sasak asli. Di sini, usia 50 tahun ke atas tidak bisa bercakap dengan menggunakan bahasa indonesia, melainkan bahasa sasak yang ia gunakan. Dalam perjalanan mengelilingi Desa Sade, kami dipandu oleh salah satu masyarakat asli sana.
Saya sempat membeli oleh-oleh gelang dengan harga aslinya 20.000 dapat 7 gelang. Sampai saya menawar 40.000 dapat 16 gelang. Yayy! Berhasil nawar. Dan juga dompet dengan harga 10.000




Setelah ke Desa Sade, penantian yang paling saya tunggu adalah Tanjung An menuju Pulau Payung dan Bukit Merese. Sampai di Tanjung An dengan private boat, kami ke Pulau Payung dulu, ada batu yang bentuknya mirip muka manusia dan di seberang pulaunya ada bukit seperti bentuk kura-kura. Sampai di pulau payung, matahari sedang terik-teriknya. Kami sampai bukit sekitar pukul 14.00. Panas, tapi tidak menyurutkan kami untuk foto-foto di sini.




Setelah puas foto-fotoan, kami melanjutkan perjalanan naik boat ke Bukit Merese. Di Bukit Merese, kami mendaki tanpa ditemani boatman. Sampai setengah puncaknya saja Ma sya Allah, sungguh indah ciptaan Allah, lagi-lagi hamparan laut, dengan ombak berdesir-desir. Saya menikmati keindahan-Nya.  Teman saya sudah mulai lelah dan kepanasan, justru saya semakin penasaran, ada apa saja di puncaknya? Lalu saya mendaki seorang diri, bukitnya tidak terjal jadi cukup mudah didaki. Dan benar saja, di atas puncak Bukit Merese di sisi saya mendaki, saya melihat hamparan laut lagi. Dan bukit di sebelahnya ada kerbau dan terlihat hijau banget.





Bukit Merese sudah, selanjutnya kembali ke Pelabuhan Tanjung An untuk menuju Pantai Kuta, Lombok.
Pantai Kuta pasirnya tidak terlalu bagus, dan pas kami ke sana pada hari minggu banyak pengunjungnya.



Lalu, tujuan akhir kami adalah Pantai Mawun, di pantai ini, ombaknya kencang banget. Indah buat difoto setelah ombak berlalu.




Dan karena kami lapar, jadilah kami makan sore, di RM Cahaya. RM pertama kali kami tiba di lombok.
Over all, dari perjalanan 4 hari 3 malam ini, saya lebih suka ke:
Gili Kedis, melihat ombak-ombak yang bertabrakan dengan karang.
Pantai Pink, dengan pasir yang indah dan super lembut
Pulau Pasir, seakan pulau sendiri berada di tengah-tengah laut.
Pulau Bintang, dengan banyak bintang laut dan air yang sangat-sangat jernih.
Bukit Merese, hamparan laut yang luas banget.
Gili Petelu, airnya suka banget. Saya saranin, untuk menyempatkan diri berenang di sini selagi ombaknya tenang.
Dari hari pertama hingga hari terakhir, saya memakai sendal jepit untuk memudahkan saya bergerak dan lagi mainnya di laut melulu, terlalu sayang jika memakai sepatu. 

Untuk info tour travel, monggo dilihat: