Entah
kenapa saya selalu mendapati teman yang bilang saya banyak uang dan
uangnya unlimited. Saya aminkan perkataan mereka. Kali-kali aja
beneran. Alhamdulillah selama saya hidup digaji oleh Allah,
saya bisa mencukupkan keuangan yang saya terima dari-Nya. Saya ingin berbagi
tips dan pengalaman saya.
Kenapa
gaji dari Allah selama hidup, saya merasa cukup, terkadang sampai ada sisa uang
di tabungan atau di tangan? Ini karena Allah Mahabaik sama saya. Dan, beberapa
tips ini yang saya jalani ketika uang dari Allah saya terima.
1.
Mengelola uang dengan baik dan terencana.
Ini
sih yang paling utama dalam mengamankan keuangan kita. Mengelola uang yang kita
dapati setiap bulannya, rada gampang-gampang susah. Jadi, ketika saya menerima
gaji bulanan, seketika saya mengeposkan keuangan saya untuk pakai ini-itu.
Semisal, gaji saya 7.000.000. Lalu apa saja pengeluaran yang akan saya gunakan
dari gaji bulanan saya?
a.
Pos tabungan : 2.000.000
b.
Pos makan :1.000.000
c.
Pos ongkos : 1.000.000
d.
Pos orangtua : 1.000.000
d.
Pos entertain : 1.000.000
e.
Pos sedekah : 200.000
f.
Pos tak terduga : 800.000
Contoh
tersebut bisa kamu ubah sesuai kebutuhan pengeluaran kamu tentunya. Karena saya
masih single, jadi untuk pos pengeluaran anak tidak saya cantumkan
di atas. Tapi, saya sarankan untuk menyisihkan pos sedekah. Karena bagaimanapun
sedekah itu yang mencukupkan rezeki kita.
2.
Mengamalkan salat Dhuha.
Saya
tidak berpikir kalau mau dapet rezeki yang baik, kudu melakukan ikhtiar salat
Dhuha. Saya malah senang menjalankan ibadah ini, karena selain mendapatkan
pahala ibadah sunah, saya merasa perlu bersyukur dengan melakukan salat Dhuha.
Memang bentuk syukur berbagai macam caranya. Salah satunya melaksanakan salat
Dhuha.
Dari
salat Dhuha, saya tidak sedang berhitung rezeki, kalau sudah salat Dhuha. Ya,
biarkan Allah yang menetapkan rezeki saya ada di mana: entah kesehatan rohani
dan jasmani, materi, keluarga, teman, dll. Yang saya rasakan sesudah salat
Dhuha apa? Saya merasa tambah bersyukur saja, setelah saya mengalami berbagai
kenikmatan dari-Nya.
Karena
niatnya lurus maka Allah juga akan memberikan hasil yang baik juga. Jadi,
jangan sekali-kali salat Dhuha karena mau dapet tambahan rezeki. Kalau bisa
nih, niatkan bukan karena ingin dapat tambahan rezeki dari Allah, tapi niat
memperbaiki rezeki. Ya, jadi tak semata-mata Allah saja yang memberikanmu
rezeki, tapi kamu juga harus berusaha memperbaiki rezeki tersebut.
3.
Memberikan uang/makanan/hadiah kepada orangtua.
Kalau
kamu berpikir memberikan uang kepada orangtua membuat rezekimu berkurang, hal
itu salah besar. Justru, dari sinilah nilai keberkahan rezeki kita ada pada doa
orangtua. Dan, hal ini termasuk dalam kategori sedekah. Ingat firman
Allah,
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh)
orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah. Adalah serupa dengan
sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji,
Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha
Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:
261)
Jangan
berpikir uang yang kamu berikan kepada orangtuamu sebagai bentuk bakti. Hal ini
tentunya tidak bisa kita bandingkan dengan pengeluaran dan usaha keras orangtua
dari melahirkanmu sampai kamu bisa menghasilkan uang sendiri. Niatkanlah hal
ini sebagai keridaanmu untuk membahagiakan orangtua. Jika orangtua senang
dengan pemberian darimu: uang/hadiah/makanan. Allah pun akan senang denganmu.
Jika Allah senang, Allah tak akan berpikir panjang untuk memberikanmu
kebahagiaan.
4.
Membeli dagangan yang tidak kita inginkan.
Kalau
kamu sering jalan naik angkutan umum atau jalan kaki di pinggir jalan. Pasti
akan kamu temui pedagang yang sudah tua renta dan masih menjajakan dagangannya
dengan tampang memelas. Namun, tetap semangat duduk menanti pembeli.
Jangan
lewatkan momen ini hanya sekadar iba atau berdoa semoga dagangannya laku.
Manfaatkan momen ini dengan membeli dagangannya. Ya, walaupun kamu tidak
membutuhkannya.
Belilah
dulu, butuh nggak butuh urusan belakangan. Toh, kalau kamu memang tidak
membutuhkannya, kamu bisa memberikannya kepada yang lebih membutuhkannya.
Setelah kamu beli, kamu beri ke orang lain yang membutuhkannya
(pengemis), ma sya Allah, pahalamu jadi berlipat-lipat. Apa yang
kamu tunggu?
5.
Melebihkan uang untuk penjual yang terlihat susah payah.
Kalau
tadi, saya singgung ke pedagang yang sudah tua renta. Sekarang, saya
menyinggung pedagang yang masih muda, tetapi bersusah payah dalam mencari
rezeki. Suka lihat pedagang yang masih memikul dagangannya dengan berjalan
kaki?
Kenapa
nggak pakai gerobak dorong atau sepeda biar memudahkan usahanya?
Saya
malah sempat berpikir seperti itu. Namun, bukankah rezeki orang itu beda-beda.
Mungkin mereka yang berdagang dengan memikul belum punya uang yang cukup untuk
membeli gerobak atau pun sepeda.
Saya
sering lho, melihat pedagang lemari kecil, kaca-kaca besar dipikul dan ia
berjalan kaki di tengah teriknya matahari. Saya terenyuh melihatnya. Sayangnya,
saya hanya bisa berdoa untuknya. Dan, pedagang seperti itu sebaiknya jangan
ditawar lagi dagangannya. Tapi, tetap saja masih ada yang tega menawarnya.
Padahal mereka sudah susah-payah berdagang keliling dengan jalan kaki. Alangkah
baiknya, kamu tambahkan uangnya sebagai ganti jihad mereka berjualan. Memberi
tip kepada pelayan jasa saja kamu tak keberatan, kok ini melebihkan untuk
pedagang keliling kamu tak mampu memberikannya. Siapa tahu, sepanjang
perjalanan mereka berjualan, ia tak henti-henti berdoa untuk kebaikanmu.
6.
Memberikan uang ke pengamen.
Suka
risih nggak sih, ada pengamen anak jalanan, bernyanyi dengan suara parau?
Bukannya menikmati alunan lagunya, yang ada malah tambah emosi. Apalagi saat
menikmati makanan pinggir jalan atau saat di angkutan umum mau tidur.
Boleh
saja marah, tapi jangan diluapkan ya. Ketahuan kamu tidak menghargai nyanyian
mereka bahkan bisa menyakiti hati mereka yang berniat mencari nafkah. Saya
lebih menghargai pengamen lho yang ada usahanya untuk mencari rezeki ketimbang
pengemis di jalan yang terlihat sehat-bugar. Lagian, nggak semua pengamen kan
memiliki suara merdu layaknya Istiana. Nah, coba deh beri penghargaan usaha
mereka dengan memberikan uang yang receh bagimu, tetapi berharga buat mereka.
7.
Memberikan uang kepada pemulung.
Paling
kasian kerja jadi pemulung. Mainannya sampah dan barang-barang bekas, pasti
kotor dan bau. Terbiasa bagi kita menutup hidung saat melewati pemulung. Iya
apa iya? Lagian, bukan mau mereka jadi pemulung kan, yang setiap harinya
bergumul dengan sampah.
Hebatnya
pemulung, karena sudah terbiasa, mereka jadi kebal sama bau sampah. Sayangnya,
kebanyakan orang saat bertemu dengan pemulung, tangannya dibuat untuk menutup
hidungnya sendiri, padahal lebih baik tangannya dipakai untuk memberikan uang
kepada pemulung dengan cara yang santun. Pasti pemulung itu akan senang dan kita
pun juga akan senang saat melihat senyumnya mengembang. Kalau hati sudah senang
hati-hati jatuh hati #lah.
8.
Silaturahim.
Siapa
yang setuju kalau silaturahim memperluas rezeki? Saya setuju banget. jangan
dikira rezeki hanya soal materi ya. Ketemu teman-teman lama itu mengasyikkan
lho, kita bisa mengasah kemampuan komunikasi kita saat bertemu dengan teman
lama. Asalkan nggak gibah ya. Kalau ketemu teman lama, pastinya kita jadi
cerewet mengajukan beberapa pertanyaan untuk mereka. Dan, dari hasil obrolan
bukannya tidak mungkin, temanmu akhirnya membantu kesulitanmu: jodoh, materi,
pekerjaan, dll.
Teman lama yang lama tidak kita kunjungi akan senang apabila kita bersoan ke rumahnya lho, apatah lagi kita membawakan makanan untuknya. Mereka tentunya akan berterimakasih kepada kita. Dan, kalau teman kita bahagia, kita juga ikutan senang, kan? Kali aja, setelah dari rumahnya, beberapa pekan kemudian, teman kita mengajak makan-makan di rumahnya. Makan dibalas makanan, cuy.
9.
Menginfakkan uang di mesjid.
Kalau
kamu lagi jalan-jalan dan salat di Mesjid. Banyak mesjid yang menyediakan kotak
amal. Entah untuk infak mesjid itu sendiri, sedekah yatim-piatu, atau
kaum dhuafa. Sedekah itu banyak jenisnya, termasuk infak mesjid.
Nah, selesai salat, barang 1000-2000 perak, lebih baik duitnya kamu tabung di
kotak amal. Mana mungkin sedekah membuat kamu jatuh miskin. Ya, hitung-hitung
saja kita nabung untuk amal kebaikan kita.
10.
Mentraktir teman jajan atau makan-makan.
Siapa
yang sukanya mentraktir teman? Haha pasti dikit sih yang hobinya mentraktir
teman, malah justru kita sukanya ditraktir. Hari gini nolak yang gratisan?
Pamali.
Tapi,
apa salahnya coba mentraktir teman sekali-kali, tentunya selain ada momen milad
kamu ya. Nggak usah traktir mahal-mahal agar membuat temanmu senang. Coba saja
misalkan traktir jajanan kesukaan teman kamu, nggak bakal nolak deh. Yang
murah-meriah aja. Kalau teman sudah senang, in sya Allah didoain
baik-baik, dan minim perselisihan.
11.
Membantu teman pinjam duit atau memudahkan urusan orang lain.
Lagi
senang, teman didekati. Lagi susah, teman dijauhi. Atuhlah jangan kitu nyak.
Nggak baik juga sih modelnya kayak gitu. Dan, kamu jangan menjadi salah satu
tipikal teman seperti itu ya. Kalau memang kita masih punya duit dan kebetulan
teman lagi butuh duit. Apa salahnya meminjamkan untuknya. Kalau pun tidak ada,
bilang saja: "Sisa uang gue cuman segini, say." Itu lebih baik
diucapkan dari pada bilang: "Yah, gue lagi nggak ada duit." Tapi,
besoknya kamu posting makanan enak di media sosial. Hal itu malah jadi nggak
aman buat pertemanan kamu.
Jangan
ragu untuk membantu teman yang sedang kesusahan ya. Kalau kita membantu
kesusahan orang lain, Allah juga akan membantu kita di saat susah lho.
Dari
Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, “Barang siapa yang melepaskan satu
kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan
pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti
Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi
aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di
akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka
menolong saudaranya”. (HR. Muslim).
11
cara itulah yang saya pernah terapkan dan alhamdulillah rezeki
dari Allah datang tanpa pernah diduga.
