Rabu

Semangat Lari Pagi




Tepatnya di hari minggu, jam setengah 6 pagi setelah salat subuh.

Hal yang aku lakukan untuk memulai pagi yang indah ini adalah dengan niat joging, dan yang pertama aku lakukan sebelum joging adalah pemanasan. Melemaskan badan yang masih kaku saat bangun tidur itu penting banged sebelum memulai joging. Walau hanya lari tetapi pemanasan itu penting loh, biar nanti pas lari badannya nggak kagetSetelah pemanasan selesai, aku memakai kaus yang mudah menyerap keringat, celana panjang bahan kaus yang mudah menyerap keringat, dan jilbab bergo dengan sepatu ketz yang sangat ringan dipakai.
Aku mulai jalan santai terlebih dahulu dan lama-lama jadi jalan cepat. Saat berjalan ini aku sengaja melepas kacamataku yang sudah minus 4 ini, niatnya adalah juga untuk melakukan olahraga matamembiasakan melihat jarak jauh tanpa kacamata. Rasanya segar sekali tidak memakai kacamata saat udara pagi menerpa wajah ini, yaa.. walau sedikit buram melihat.
Sesampainya di track buat joging, yaitu Regency atau dikenal Graha Raya. Menjadi tempat orang-orang untuk lari-lari pagi sepertiku. Regency menjadi tempat yang ramai dikunjungi saat hari minggu tiba. Ada yang berolahraga dan juga berdagang.

And now time start for RUN... ! Ampuun berasa cepet capek dan mudah keringatan rupanya. Apa karena jarang banged olahraga? Bahkan fakum selama hampir satu tahun? Oh my goodness, padahal dulu joging menjadi acara pavorit aku di hari minggu waktu aku masih SMP.


Sekarang, karena tuntutan usia yang mengharuskan aku untuk berolahraga, menjadi alarm kesehatanku saat ini. Di usia 26 tahun, aku harus memanfaatkan waktu sehatku dengan berolahraga. Selesai joging yang hanya butuh waktu satu jam saja buatku. Aku mengaso kemudian, dengan meminum air putih satu gelas, dan aku merasa kelaparan. Jeng jeng ! aku membuat menu sarapan penuh gizi yaitu telor ceplok dan segelas susu. Telurnya aku kasih lada dan garam loh! mm.. yummy.


Minggu

Perindu kosan


Semalam, kami baru berbincang-bincang lagi di telepon, aku dengan adik kosanku waktu kuliah di malang. Sangat senang rasanya ketika mendengar suaranya nan riang dari kejauhan sana. Kami mengobrol panjang lebar, terutama aku yang selalu bertanya tentang suasana kosan dan kabar kota Malang. Rasanya rindu sekali dengan hal-hal kehidupan di Malang. Adik kosanku bernama ade asli orang Madura, dengan logat kentalnya ia mulai bercerita, kalau suasana kosan sekarang sudah tidak seramah ketika aku dan penghuni lama masih berada di Wisma Kamilia, tempat kami singgah untuk menuntut ilmu.

Wisma kamilia menjadi saksi biksu aku yang sekarang menjadi seorang sarjana. Satu persatu penghuni lama sudah pergi meninggalkan Wisma Kamilia. Nampaknya mereka sama sepertiku yang sudah puas mendapatkan gelar sarjana, lalu tega meninggalkan tempat yang suka maupun duka ada di Wisma. Sepanjang perjalanan menuntut ilmu di Malang, tidur, mandi, makan, belajar, ngobrol, nonton tv, mencuci, menggosok, adalah rentetan kegiatan saat berada di Wisma Kamilia.

Aku merasa sangat nyaman bisa tinggal di kosan yang terlihat elit nan murah itu. Bayangkan saja, Wisma Kamilia seperti hotel yang hanya memiliki 3 lantai dengan berbagai fasilitas:  
tempat tidur, lemari, meja belajar, listrik, dapur dengan kompor gas nya perlorong, kamar mandi 2 di luar perlorong, televisi di luar per lorong, aku hanya membayar 2,5 juta per tahun. Yaa, walaupun aku memlilih kamar yang kecil, tapi menurutku tidak sumpek, aku berada di lantai 3, dan dari arah jendela aku bisa meloncat dan bisa berada di balkon kamarku sendiri. Fasilitas yang memadai menjadi sangat luar biasa, ketika teman-teman kos layaknya keluarga. Aku bisa berteriak memanggil rara di lantai 2, aku bisa menyetel musik sangat kencang ketika pagi, aku bisa salat berjamaah dengan teman-teman kos. Rasanya tidak mau pisah dari mereka. Fasilitas dan suasana di wisma kamilia kini tinggal kenangan, Aku hanya bisa bersedih ketika ade bercerita tidak seramah dahulu, kemudian terlihat individualis, dan penghuni lamanya kini telah pergi satu-persatu. Ade masih satu tahun lagi di Wisma, ia melanjutkan S1 dari selesai D3 nya.

Lalu emak si penjual nasi sayur dan gorengan keliling langganan kami, kini tidak berjualan lagi. Kata ade, sekarang tidak ada yang beli. Jadi ingat, sekitar jam 9 pagi emak sudah meneriaki kami dari lantai 1 “Rek, nasiiii… sayuurrr…. Gorengan, masih anget.” Buru-buru kami menyautinya “Tunggu mak.” Dan lari dengan semangatnya menuruni anak tangga hingga ke lantai dasar. Ah, ternyata aku merindukan masakan emak.

Aku mulai bertanya lagi tentang para penjualan yang sering ng-time di Wisma Kamilia, bagaimana dengan cak dul? Si tukang bakso Malang yang baksonya super duper yummi, mamang bubur? Bubur asli bandung dan mamangnya oge urang sunda, Tukang utuk-utuk? Yang selalu berisik berteriak “Mbaaak, utuk-utuk, weci, getasss!”. Dan ternyata mereka masih berjualan. “Alhamdulillah.” Ucapku. Yang buatku terkejut dari ucapan ade di telepon adalah soal harga satu bakso cak dul kini Rp 2000 per bakso? Sesuatu fenomenal, dulu aku membeli per-bakso-nya hanya Rp 500 saja.

Aku rindu suasana kos di Wisma Kamilia. Kapan aku bisa menjamahnya lagi dan mengatakan. “Kamu gak digusur kan?”

Senin

Metamorfosis nama


Tidak ada sebuah nama tanpa arti, mungkin itulah yang dipikirkan masak-masak oleh kedua orangtua kita sebelum kita lahir, memberikan nama untuk si calon buah hati dengan harapan nantinya, anak tersebut akan memiliki arti sesuai dengan nama yang akan melekat hingga ujung usianya.

Mungkin orang tua akan mencari-cari nama untuk anaknya sampai yang diinginkannya terpuaskan.

“Nah mungkin ini nama yang cocok untuk anak kita,pas dengan artinya ‘Hati nurani’ wijdan. “
Terlahir di tahun 1986 anak perempuan tersebut diberi nama wijdan ‘hati nurani’ yang entah kenapa terdengar seperti nama untuk anak laki-laki, kini tercokok sangat kuat pada seorang anak perempuan dengan nama wijdan. Sungguh aku berterima kasih kepada orang tua yang telah memberiku nama dengan arti yang sangat indah ini, ‘hati nurani’ dengan arti tersebut aku seakan menjadi sosok yang sangat ‘perasa’ dengan hati yang tidak bisa dikecewakan. Namun pada kenyataan sepanjang perjalanan hidup wijdan memberiku makna yang sangat indah.

Beralih ke nama, pada usia yang menjelang 27 tahun ini, tidak hanya nama wijdan saja orang-orang mengenalku. Berbagai pelencengan nama wijdan pun terjadi.

Diawali dengan nama kecilku ‘jade’ (baca : jid) keluargaku dari Jakarta dan Situbondo memanggil “kakak jade, adik jade” tanpa tahu artinya, hingga kini ‘jade’ tidak pernah lepas dari gaungan keluarga yang memanggilku.

“Dol” dodol? Artinya bodoh, entahlah hanya kakak dan adikku saja yang memanggil dengan sebutan ini. Berawal dari ulah kebodohanku dalam bercanda dengan saudara kandungku ini, panggilan ‘dodol’ menjadi sangat akrab di telingaku.
Wijdan, mungkin orang-orang yang memanggil namaku agak sulit dengan karakter lidah  orang-orang yang beragam, sehingga nama wijdan bisa berubah menjadi ‘wisdan, wizdan, widan’ Ah kalau sudah begitu wijdan akan menjadi sebuah arti yang salah.
Simplenya orang pasti akan memanggil namaku pada konsonan terakhirnya “dan” pasti dengan seketika akan menyaut “Ya, saya?”

SD, teman-teman SD sering membuli namaku hingga menjadi ‘wajan’ ‘zidan’ ‘bidan’ ‘edan’

SMP, metamorphosis wijdan to be ‘idhan’ Ada seorang teman suddenly memberiku nama panggilan idhan. Mungkin kedengarannya bagus, mengingat untuk menyebut wijdan sangat susah, dan juga belum ada nama panggilan untuk si wijdan. Kadang suka bingung kalau di tanya, “nama panjangnya siapa?” | gak ada, wijdan aja kok | nama panggilannya? | wijdan juga  #eaaa
Dan saatnya aku memiliki nama panggilan yaitu idhan.

Senior High School, wijdan seolah berevolusi lagi, ada yang manggil ‘wijdun, wije, weje’
Kuliah, aku baru PD memploklamirkan nama ‘idhan’ untuk panggilan yang akan menemaniku nanti. Jadi ceritanya, saat ada yang berkenalan denganku aku dengan lantang akan menyebut “idhan”
Dan sebutan "Mbah" , entah dari mana asal si panggilan tersebut bisa melekat sampai sekarang. Mungkin diantara mereka, usiaku di atas mereka.  

Saat booming situs jejaring sosial, saat sign up mengisi form, aku isi nama depan idhan, dan bingung dengan nama belakangku akan di isi apa? Oke kali ini aku sangat bingung dengan gelar nama belakangku. Sempat beberapa nama belakang menjadi pelekatan setelah nama idhan, ‘hoelwun, bahri, kirei, papan, hulwah’. Adanya nama belakang ini, beberapa teman selalu kepo “hoelwun, bahri, kirei, papan, hulwah?? Maksudnya apa? Artinya apa?“

Simple saja menjawabnya,

hoelwun di ambil dari bahasa arab yang artinya manis, Bahri adalah nama belakang ayah, kirei diambil dari bahasa jepang yang artinya cantik, papan?
Dan ini yang menjadi pemikir untuk nama belakang yang akan digunakan di beberapa jejaring sosial, istilah katanya, nama entertainer. Kalau dianalogikan aku ya seperti papan dengan fisik tubuh yang kurus. Papan tercetus dari obrolan seorang teman yang mengibaratkan orang kurus itu seperti papan. 
Dan aku pun mulai merasa papan itu sepertinya akan pantas dengan gandengan nama untuk idhan, jadi idhan papan nama depan dan nama belakang sama-sama berakhiran ‘an’. Nama papan sempat menjadi fenomena. Karena nama adalah sebuah doa, aku ingin gemuk dan tidak ingin selalu kurus. Aku mengganti papan dengan hulwah, artinya masih sama dengan hoelwun yang diambil dari bahasa arab artinya manis.


Shakespare pernah berkata “Apalah arti sebuah nama” Namun buatku, metamorfosis sebuah nama yang memilki arti penting dalam hidup, merupakan sebagian dari perjalanan hidup. Bisa merasa lucu, aneh, puas, hanya dengan sebutan dari nama.