Sabtu

Jalan-jalan ke Padang dan Pantai Malin Kundang



Awalnya sih, kepengenan kita geng Power Puff Girls pelesiran ke Sumatra Barat. Karena uni Sri Maria Ulfa salah satu personil geng kami yang punya kampung di Sumatra Barat, Ulfa mengusulkan untuk kami berdelapan mengunjungi kota yang orang-orangnya pandai berdagang tersebut.

Namun, keinginan Ulfa untuk pergi bersama rombongan Power Puff Girls tidak terealisasikan dengan baik. Satu-satu mengundurkan diri dengan alasan yang Ulfa dapat maklumi. Malahan saya, bukan orang yang ngoyo pengin banget pergi ke Padang dalam waktu dekat. Karena, sebelum saya resign, saya sangsi bisa ambil cuti panjang ke ranah minang. Beruntungnya, saya dapat resign sebelum saya dan Ulfa pergi ke Sumatra Barat.

Finally... kami order tiketnya via Traveloka sekalian balik ke Jakarta. Kami memilih maskapai yang bagus dan ongkos yang ramah tentunya. Alhamdulillah, kami dapat booking langsung untuk pulang dan pergi dengan maskapai yang berbeda karena kami tetep cari yang murah #teuteup. Cuss dapat tiket melalui email, memesan tiket via Traveloka ternyata gampang ya: tinggal isi formulirnya dan bayar deh.   

Hari H pun tiba. Karena saya nebeng Ulfa biar sampai ke Bandara, saya samperinlah ke rumah Ulfa. Adik Ulfa, si Miftah juga ikut pergi. Miftah yang memang kuliah di Unand (Universitas Andalas) harus masuk kampus, karena liburan panjangnya telah usai. Kami pun berangkat bertiga ke Sumatra Barat.

Dengan disopiri oleh Uda Faisal dan rombongan keluarga kecilnya yang juga ikut. Sampailah kami di Bandara Soekarno Hatta. Tepat setengah jam sebelum take off. Dari Pondok Kacang via Tol Ciledug. 30 menit cuy! Mungkin karena hari minggu, dan alhamdulillah-nya tolnya lancar jaya!

Dengan menaiki Pesawat Sriwijaya yang take off pukul 09.05 dan tiba di Padang sampai pukul 10.45 Kami dijemput Bang Iis, abangnya Ulfa. Tujuan pertama kami sesampainya di Padang adalah Mesjid Raya Sumbar dan Salat Zuhur di sana. Mesjid Raya Sumbar memiliki arsitektur yang unik, bentuk kubahnya berbeda dengan mesjid pada umumnya, berbentuk persegi dengan tiap sudutnya tinggi menjulang, seperti kekhasan pada rumah minang. Kalau kita lihat dari bagian mana pun kubahnya yang unik tersebut tetap berbentuk sama. 



Mesjid ini terbilang baru selesai dibangun, setelah peletakan batu pada tahun 2007. Pas saya datang ke sana, halaman mesjidnya sudah ada dan sedikit rerumputan yang menyembul dari tanahnya. Atas izin Allah, saya akhirnya bisa melihat langsung dan salat di rumah-Nya yang termasuk mesjid terbesar dan anti gempa di Sumatra Barat ini, yaay!

Lalu, kami melipir ke rumah makan yang tidak jauh dari Mesjid. Setelah perut-perut kami kenyang, Bang Iis dengan semangat 45 menyopiri kami berkeliling kota Padang, melewati Jembatan Siti Nurbaya dan mengililingi kampus Unand. Perjalanan keliling setengah kota Padang diakhiri dengan guyuran hujan.

Tujuan terakhir pertama kali menginjakkan kaki di Padang adalah rumah Ayang, entah kenapa tantenya Ulfa dipanggil dengan sebutan Ayang. Kami hinggap di rumah Ayang yang berada di Bandar Buat, tak jauh dari Pasar Bandar Buat. Saat itu matahari hampir tenggelam dan berganti kegelapan malam. Bang Iis dan keluarga kecilnya hanya mengantarkan saya, Ulfa, dan Miftah sampai rumah Ayang saja. Karena besoknya, Bang Iis dan istrinya sudah kembali bekerja di Pariaman. Sedangkan Miftah, malamnya sudah harus beristirahat di kosannya.  

Pantai Malin Kundang

Keesokan harinya, saya, Ulfa, dan Meri, anak sulung dari Ayang pergi ke Pantai Air Manis dengan menggunakan moda Padang, dari Bandar Buat naik angkot menuju Pasar Raya. Karena waktu azan zuhur telah tiba, kami salat di sekitar Pasar Raya, namanya Mesjid At-Taqwa Muhammadiyah 


Di Pasar Raya, kami mencari saudaranya Ulfa yang berdagang di sana. Dan kami sempat melewati alun-alunnya Padang. "Meri, itu apa?" saya menunjuki gedung yang atapnya khas rumah minang tersebut. "Tempat duduk-duduk, Kak." jawab Meri. Saya agak kurang percaya sama Meri, lalu saya jalan cepat mendekati gedung yang mirip Anjungan Sumatra Barat di TMII. Owh ternyata benar, gedung itu hanya untuk tempat duduk-duduk saja, tapi bukan sekadar tempat duduk. Gedung ini bisa saya sebut stadion bola terbuka. Soalnya, depan gedungnya ada tanah lapang.  



Lalu lanjut mencari angkot yang akan membawa kami ke tempat tujuan ke arah SMAN 6. Ada yang cukup unik pada angkot Padang: terdapat sound system yang abang sopirnya tidak sungkan-sungkan menyetel lagu remix padang dengan volume yang memekakkan telinga. 

Bayangin dong perjalanan dari Pasar Raya menuju TKP lumayan lama: 45 menit kuranglebih dan sepanjang jalan saya terpaksa mendengar lagu yang kencang tersebut. Duh Bang... congek gue mental deh nanti..

Setelah berhenti di SMAN 6, ada pangkalan ojek yang akan membawa kami ke Pantai Air Manis.  Di pangkalan ojek, saya hanya melihat bapak ojek seorang diri tanpa ada kawan-kawannya, sedangkan kami ada tiga orang. “Pak, berapa ke pantai air manis?” tanya Ulfa pakai bahasa minang. “20,000 aja dek.” jawab bapak ojeknya. Saya agak speechless mendengar kata 20.000, itu artinya ongkos naik ojek pulang-pergi 40.000, Cuy.

Yaudah deh, masa iya mau nggak jadi hanya gara-gara ongkos yang terlalu mahal itu. Akhirnya kami menunggu dengan sabar kedatangan geng motor ojek yang kurang dua orang. Perjalanan dari bawah ke atas agak-agak serem ya... jalanannya nggak lebar dan banyak kelokan untuk bisa sampai ke Pantai Malin Kundangnya. Dan, nggak mungkin geng motor ojeknya dibuat trek-trekan di medan yang terbilang serem ini. Lumayan jauh sih, dari pangkalan menuju lokasi. 15 menitan.  

Sampailah kami di Pantai Air Manis. Sepi euy. Iyalah, karena kami berkunjung bukan pada hari libur. Eh jadi saya kepo deh, kenapa pantai ini dinamakan Pantai Air Manis ya, ada yang tahu? 
Saya dan Ulfa penasaran dengan Malin Kundang yang sudah dikutuk jadi batu, pengennya sih, selfie kalau malin kundangnya belum jadi batu. Apa daya, pas ke sana si Malin udah jadi batu. 

Konon, Malin Kundang jadi batu karena dikutuk oleh emaknya. Pulang dari rantauan, si Malin terlena dengan harta dan wanita. Doi malu, lalu tidak mau mengakui emaknya yang miskin dan sudah tua renta itu. Emaknya sakit hati atas perlakuan anaknya dan berdoa agar si Malin menjadi batu saja, dan doa orangtua luar biasa kesaktiannya: terbukti Malin Kundang sudah menjadi batu. 

Ini bisa menjadi pelajaran buat kita agar tidak kurang ajar sama emak yang sudah melahirkan dan merawat kita hingga saat ini. (maafkan aku emaaak, yang belum bisa ngasih mantu sampai sekarang, -EH-) Fyi, kata kang foto di sana, bagian kepala si Malin sudah tidak asli lagi lho.


Pantai manis yang terlihat seru ombak-ombaknya membuat kami penasaran menyusuri pantainya saja tanpa main air di sana.




“Kalau ada sumur di ladang, bolehkah kita menumpang mandi, kalau ada umur yang panjang, bolehkah kita bertemu lagi?”

Kamis

Tanpa Kuota, Selfie Sepuasnya di Tanjung Sari Wonosobo



Hari kedua (29 Desember 2017) di Wonosobo, awalnya sih mau ke Cikunir, di Dieng. Alhamdulillah curah hujan di Dieng tidak begitu besar seperti yang Kakak saya ucapkan sebelum berangkat ke Wonosobo, katanya sih, sampai terjadi longsor. Nah, pas saya sampai di Wonosobo longsor-longsoran gitu udah nggak sering kejadian, mungkin curah hujannya sudah mulai sedikit. Jadi bisa nih ke Cikunir, Kakak Ipar saya tanya-tanya temannya yang sudah pernah ke Cikunir, katanya, Cikunir trek jalanannya terjal. Jadi mikir-mikir lagi deh bawa bocil tiga yang mana cowoknya hanya Kakak Ipar yang ikut. Padahal, saya sudah semangat sekali bakal ke Cikunir, hiking sedikit lalu sampai sana, pemandangan ciptaan Allah sangat luar biasa indah. Awannya juga bisa terlihat, katanya bagaikan  di atas awan.

Lalu rencana ke Cikunir beralih ke Tanjung Sari. Berangkat menuju ke sana menggunakan sepeda motor. Tiga motor dipakai untuk jalan-jalan ke Tanjung Sari. Motor vespa dipakai Kakak Ipar saya yang memboncengi dua bocil, vario dipakai kakak bersama tante saya, dan saya menggunakan motor beat memboncengi satu bocil dan adik yang lagi puber.

Alhamdulillah, di luar sana cuaca cukup cerah, tidak hujan dan tidak panas. Kami berangkat pukul 08.30. Sepanjang jalanan yang saya lalui cukup menyenangkan: saya melewati pada kiri-kanan saya tebing dan sawah-sawah, plus dengan udaranya yang cukup segar. Hebatnya, saya tidak menggunakan jaket euy! Luar biasa, bukan karena sengaja, tapi lupa bawa apalagi pakai.

Insiden kesasar pun terjadi, saya kebablasan setengah jam dari TKP. Kok bisa? Iya, kakak saya yang tadinya di belakang tiba-tiba lenyap, mungkin saking saya menikmati perjalanan ini, saya jadi kalap ngegas. Jalanan yang saya susuri tidak padat kendaraan, banyak tikungan yang menaik ke atas: untungnya tidak ada bus-bus besar yang melintas, hanya mini bus. 
Super excited saat nyetir motor menuju Tanjung Sari yang sudah kebablasan melewati Desa Kepil, Teges Wetan. Sampai kebablasan jalan itu, karena saya juga mengestimasikan waktu perjalanan dari rumah ke Tanjung Sari sekitar satu jam, itu pun kata Kakak saya waktu saya menanyakan berapa lama perjalanannya. Saya kerap melihat jam tangan saya yang saat itu masih tersisa setengah jam lagi, saya dengan percaya diri ngegas motor sampai di titik saya kelelahan menyetir.

Kami pun berhenti di pinggir jalan dan tidak tahu sudah berada di mana. Buru-buru saya melihat layar HP, Whatsapp dari Kakak saya yang bilang, bahwa mereka sudah tiba dari tadi. Saya pun melihat jam chat kakak saya yang sudah lebih dari setengah jam yang lalu ia chat dan bahkan menelepon. Ok, untungnya saat saya memegang HP, HP-pun berdering kembali dan saya mengangkatnya. Akhirnya kami balik arah menuju Tanjung Sari dengan patokan yang sudah diberitahu. Untungnya, saat saya menyetir saya selalu mengingat macam spanduk atau pun nama jalanan yang sudah saya lewati.

Finally, kami sampai di Tanjung Sari dan melihat spanduk Tanjung Sari lalu saya bergumam dalam hati: pantas saja saya terlewat, wong spanduk bertuliskan Tanjung Sari ini telah memudar, kalah warna dengan spanduk makan yang terletak di bawahnya. Spanduk makan yang berwarna kuning gonjreng itu justru terlihat jelas dari beberapa meter saja dengan tulisan: Rumah Makan Tenda Biru. Padahal, selama saya nyetir, berharap menemukan Tanjung Sari dengan spanduknya yang mengagumkan. Harapan saya pupus ketika melihat spanduknya. Lalu, saya membayar tiket masuk wisatanya, yang dikenakan 7000 per-orang.

Tanjung Sari ini adalah kebon teh yang juga sebagai objek wisata dengan berbagai fasilitas menarik pengunjung, seperti dua kolam renang, spot selfie dengan latar perbukitan yang dihiasi pohon-pohon berwarna hijau atau pun bunga-bunga yang indah. 





Setelah puas bercengkrama dengan alamnya, kami pulang ke rumah. Alhamdulillah setelah misi rihlah selesai, di tengah perjalanan turun hujan dengan derasnya, dan kami berteduh di bengkel.


Itulah cerita perjalanan saya ke Tanjung Sari Wonosobo, mau tahu saya ke mana lagi? Klik di sini

Sabtu

11 cara melejitkan rezeki tanpa pernah diduga



Entah kenapa saya selalu mendapati teman yang bilang saya banyak uang dan uangnya unlimited. Saya aminkan perkataan mereka. Kali-kali aja beneran. Alhamdulillah selama saya hidup digaji oleh Allah, saya bisa mencukupkan keuangan yang saya terima dari-Nya. Saya ingin berbagi tips dan pengalaman saya. 
Kenapa gaji dari Allah selama hidup, saya merasa cukup, terkadang sampai ada sisa uang di tabungan atau di tangan? Ini karena Allah Mahabaik sama saya. Dan, beberapa tips ini yang saya jalani ketika uang dari Allah saya terima. 

1. Mengelola uang dengan baik dan terencana. 

Ini sih yang paling utama dalam mengamankan keuangan kita. Mengelola uang yang kita dapati setiap bulannya, rada gampang-gampang susah. Jadi, ketika saya menerima gaji bulanan, seketika saya mengeposkan keuangan saya untuk pakai ini-itu. Semisal, gaji saya 7.000.000. Lalu apa saja pengeluaran yang akan saya gunakan dari gaji bulanan saya? 

a. Pos tabungan     : 2.000.000
b. Pos makan         :1.000.000
c. Pos ongkos        : 1.000.000
d. Pos orangtua     : 1.000.000
d. Pos entertain     : 1.000.000
e. Pos sedekah       :   200.000
f. Pos tak terduga  :   800.000

Contoh tersebut bisa kamu ubah sesuai kebutuhan pengeluaran kamu tentunya. Karena saya masih single, jadi untuk pos pengeluaran anak tidak saya cantumkan di atas. Tapi, saya sarankan untuk menyisihkan pos sedekah. Karena bagaimanapun sedekah itu yang mencukupkan rezeki kita.

2. Mengamalkan salat Dhuha.

Saya tidak berpikir kalau mau dapet rezeki yang baik, kudu melakukan ikhtiar salat Dhuha. Saya malah senang menjalankan ibadah ini, karena selain mendapatkan pahala ibadah sunah, saya merasa perlu bersyukur dengan melakukan salat Dhuha. Memang bentuk syukur berbagai macam caranya. Salah satunya melaksanakan salat Dhuha. 

Dari salat Dhuha, saya tidak sedang berhitung rezeki, kalau sudah salat Dhuha. Ya, biarkan Allah yang menetapkan rezeki saya ada di mana: entah kesehatan rohani dan jasmani, materi, keluarga, teman, dll. Yang saya rasakan sesudah salat Dhuha apa? Saya merasa tambah bersyukur saja, setelah saya mengalami berbagai kenikmatan dari-Nya.

Karena niatnya lurus maka Allah juga akan memberikan hasil yang baik juga. Jadi, jangan sekali-kali salat Dhuha karena mau dapet tambahan rezeki. Kalau bisa nih, niatkan bukan karena ingin dapat tambahan rezeki dari Allah, tapi niat memperbaiki rezeki. Ya, jadi tak semata-mata Allah saja yang memberikanmu rezeki, tapi kamu juga harus berusaha memperbaiki rezeki tersebut. 

3. Memberikan uang/makanan/hadiah kepada orangtua.
Kalau kamu berpikir memberikan uang kepada orangtua membuat rezekimu berkurang, hal itu salah besar. Justru, dari sinilah nilai keberkahan rezeki kita ada pada doa orangtua. Dan, hal ini termasuk dalam kategori sedekah. Ingat firman Allah, 

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah. Adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji, Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QSAl-Baqarah: 261)

Jangan berpikir uang yang kamu berikan kepada orangtuamu sebagai bentuk bakti. Hal ini tentunya tidak bisa kita bandingkan dengan pengeluaran dan usaha keras orangtua dari melahirkanmu sampai kamu bisa menghasilkan uang sendiri. Niatkanlah hal ini sebagai keridaanmu untuk membahagiakan orangtua. Jika orangtua senang dengan pemberian darimu: uang/hadiah/makanan. Allah pun akan senang denganmu. Jika Allah senang, Allah tak akan berpikir panjang untuk memberikanmu kebahagiaan. 

4. Membeli dagangan yang tidak kita inginkan.

Kalau kamu sering jalan naik angkutan umum atau jalan kaki di pinggir jalan. Pasti akan kamu temui pedagang yang sudah tua renta dan masih menjajakan dagangannya dengan tampang memelas. Namun, tetap semangat duduk menanti pembeli. 
Jangan lewatkan momen ini hanya sekadar iba atau berdoa semoga dagangannya laku. Manfaatkan momen ini dengan membeli dagangannya. Ya, walaupun kamu tidak membutuhkannya. 

Belilah dulu, butuh nggak butuh urusan belakangan. Toh, kalau kamu memang tidak membutuhkannya, kamu bisa memberikannya kepada yang lebih membutuhkannya. Setelah kamu beli, kamu beri ke orang lain yang membutuhkannya (pengemis), ma sya Allah, pahalamu jadi berlipat-lipat. Apa yang kamu tunggu?    

5. Melebihkan uang untuk penjual yang terlihat susah payah.

Kalau tadi, saya singgung ke pedagang yang sudah tua renta. Sekarang, saya menyinggung pedagang yang masih muda, tetapi bersusah payah dalam mencari rezeki. Suka lihat pedagang yang masih memikul dagangannya dengan berjalan kaki? 
Kenapa nggak pakai gerobak dorong atau sepeda biar memudahkan usahanya? 
Saya malah sempat berpikir seperti itu. Namun, bukankah rezeki orang itu beda-beda. Mungkin mereka yang berdagang dengan memikul belum punya uang yang cukup untuk membeli gerobak atau pun sepeda. 

Saya sering lho, melihat pedagang lemari kecil, kaca-kaca besar dipikul dan ia berjalan kaki di tengah teriknya matahari. Saya terenyuh melihatnya. Sayangnya, saya hanya bisa berdoa untuknya. Dan, pedagang seperti itu sebaiknya jangan ditawar lagi dagangannya. Tapi, tetap saja masih ada yang tega menawarnya. Padahal mereka sudah susah-payah berdagang keliling dengan jalan kaki. Alangkah baiknya, kamu tambahkan uangnya sebagai ganti jihad mereka berjualan. Memberi tip kepada pelayan jasa saja kamu tak keberatan, kok ini melebihkan untuk pedagang keliling kamu tak mampu memberikannya. Siapa tahu, sepanjang perjalanan mereka berjualan, ia tak henti-henti berdoa untuk kebaikanmu.  

6. Memberikan uang ke pengamen.

Suka risih nggak sih, ada pengamen anak jalanan, bernyanyi dengan suara parau? Bukannya menikmati alunan lagunya, yang ada malah tambah emosi. Apalagi saat menikmati makanan pinggir jalan atau saat di angkutan umum mau tidur. 

Boleh saja marah, tapi jangan diluapkan ya. Ketahuan kamu tidak menghargai nyanyian mereka bahkan bisa menyakiti hati mereka yang berniat mencari nafkah. Saya lebih menghargai pengamen lho yang ada usahanya untuk mencari rezeki ketimbang pengemis di jalan yang terlihat sehat-bugar. Lagian, nggak semua pengamen kan memiliki suara merdu layaknya Istiana. Nah, coba deh beri penghargaan usaha mereka dengan memberikan uang yang receh bagimu, tetapi berharga buat mereka.

7. Memberikan uang kepada pemulung.

Paling kasian kerja jadi pemulung. Mainannya sampah dan barang-barang bekas, pasti kotor dan bau. Terbiasa bagi kita menutup hidung saat melewati pemulung. Iya apa iya? Lagian, bukan mau mereka jadi pemulung kan, yang setiap harinya bergumul dengan sampah. 

Hebatnya pemulung, karena sudah terbiasa, mereka jadi kebal sama bau sampah. Sayangnya, kebanyakan orang saat bertemu dengan pemulung, tangannya dibuat untuk menutup hidungnya sendiri, padahal lebih baik tangannya dipakai untuk memberikan uang kepada pemulung dengan cara yang santun. Pasti pemulung itu akan senang dan kita pun juga akan senang saat melihat senyumnya mengembang. Kalau hati sudah senang hati-hati jatuh hati #lah. 
8. Silaturahim.

Siapa yang setuju kalau silaturahim memperluas rezeki? Saya setuju banget. jangan dikira rezeki hanya soal materi ya. Ketemu teman-teman lama itu mengasyikkan lho, kita bisa mengasah kemampuan komunikasi kita saat bertemu dengan teman lama. Asalkan nggak gibah ya. Kalau ketemu teman lama, pastinya kita jadi cerewet mengajukan beberapa pertanyaan untuk mereka. Dan, dari hasil obrolan bukannya tidak mungkin, temanmu akhirnya membantu kesulitanmu: jodoh, materi, pekerjaan, dll. 

Teman lama yang lama tidak kita kunjungi akan senang apabila kita bersoan ke rumahnya lho, apatah lagi kita membawakan makanan untuknya. Mereka tentunya akan berterimakasih kepada kita. Dan, kalau teman kita bahagia, kita juga ikutan senang, kan? Kali aja, setelah dari rumahnya, beberapa pekan kemudian, teman kita mengajak makan-makan di rumahnya. Makan dibalas makanan, cuy.
     
9. Menginfakkan uang di mesjid.

Kalau kamu lagi jalan-jalan dan salat di Mesjid. Banyak mesjid yang menyediakan kotak amal. Entah untuk infak mesjid itu sendiri, sedekah yatim-piatu, atau kaum dhuafa. Sedekah itu banyak jenisnya, termasuk infak mesjid. Nah, selesai salat, barang 1000-2000 perak, lebih baik duitnya kamu tabung di kotak amal. Mana mungkin sedekah membuat kamu jatuh miskin. Ya, hitung-hitung saja kita nabung untuk amal kebaikan kita. 

10. Mentraktir teman jajan atau makan-makan. 

Siapa yang sukanya mentraktir teman? Haha pasti dikit sih yang hobinya mentraktir teman, malah justru kita sukanya ditraktir. Hari gini nolak yang gratisan? Pamali. 

Tapi, apa salahnya coba mentraktir teman sekali-kali, tentunya selain ada momen milad kamu ya. Nggak usah traktir mahal-mahal agar membuat temanmu senang. Coba saja misalkan traktir jajanan kesukaan teman kamu, nggak bakal nolak deh. Yang murah-meriah aja. Kalau teman sudah senang, in sya Allah didoain baik-baik, dan minim perselisihan.

11. Membantu teman pinjam duit atau memudahkan urusan orang lain.

Lagi senang, teman didekati. Lagi susah, teman dijauhi. Atuhlah jangan kitu nyak. Nggak baik juga sih modelnya kayak gitu. Dan, kamu jangan menjadi salah satu tipikal teman seperti itu ya. Kalau memang kita masih punya duit dan kebetulan teman lagi butuh duit. Apa salahnya meminjamkan untuknya. Kalau pun tidak ada, bilang saja: "Sisa uang gue cuman segini, say." Itu lebih baik diucapkan dari pada bilang: "Yah, gue lagi nggak ada duit." Tapi, besoknya kamu posting makanan enak di media sosial. Hal itu malah jadi nggak aman buat pertemanan kamu.

Jangan ragu untuk membantu teman yang sedang kesusahan ya. Kalau kita membantu kesusahan orang lain, Allah juga akan membantu kita di saat susah lho.

Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Muslim).

11 cara itulah yang saya pernah terapkan dan alhamdulillah rezeki dari Allah datang tanpa pernah diduga.