Minggu

Awas Copet, waspadalah!



Jakarta sudah tak aman! Duh, hati-hati nih buat para wanita yang pemakai angkutan umum ibu kota Jakarta. Pasalnya kejahatan ada di  mana-mana dan di setiap kesempatan. Benarlah ucapan ibu saya yang ketika keluar rumah ia sering berkata, “hati-hati!”

Sebenarnya sudah sering juga saya menjadi incaran para pencopet.  Alhamdulillahnya modus para pencopet itu selalu gagal. Kenapa? Apakah saya berhati-hati? Justru saya ceroboh dan saya menulis di sini sedikit ingin share kepada kalian bahwa jangan sampai kecopetan terjadi pada kalian.

Jadi gini, tepatnya di metro 69 jurusan Blok M- Ciledug. Sepulang kerja sekitar jam 7 malam. Kondisi saya saat itu ngantuk banget dan tertidur dengan mendekap tas ransel saya.  Entah kenapa tiba-tiba saya tebangun dan mendapati resleting tas paling depan dan samping saya terbuka. Dengan cepat saya tersadar bahwa saya menjadi target pencopet itu. Tanpa ada perlawanan dari saya toh pencopet itu juga sudah kecele. Pasalnya dia hanya berhasil mencopet dompet koinan saya yang sengaja saya taruh depan tas. Modusnya adalah dengan sengaja dempetin badannya ke target dan menyampirkan jaket hitamnya ke depan.
Notes: Jangan tertidur di angkutan umum kecuali ada temanmu yang tidak juga tertidur di angkutan.

Cerita kedua, tepatnya di kopaja 19 jurusan Blok M-Ragunan. Saya menunggu di terminal Blok M dan buru-buru menaiki kopaja dengan tas ransel yang saya sampirkan di belakang. Ketika itu ada beberapa laki-laki yang ingin naik juga tetapi mendorong saya. Dan yang terjadi adalah ketika saya berhasil duduk di dalam kopaja adalah tas ransel saya kancingnya terbuka! Awalnya nggak sadar kalau tas saya kebuka gara-gara pencopet itu. Dan keanehan lagi terjadi, kondisi di kopaja saat itu sepi saat ada perempuan yang ingin turun lagi-lagi pencopet itu buru-buru mendekatinya dari arah belakang dan sengaja tidak turun. Ternyata modusnya adalah dengan mendekati penumpang yang ingin turun. Begitupun saya ketika mau turun dan lagi-lagi pencopetnya buru-buru mendekati saya. Karena sudah tahu modusnya, saya pun menyampirkan tas ransel saya ke depan dan saya menyilakan pencopet itu turun terlebih dulu. Tapi apa? Tuh doi malah mundur ke belakang dan walhasil pencopetnya gagal nyopet.
Notes : Sampirkan tas kalian ke depan dalam keadaan apapun. Ingat copet ada dimana-mana.

Cerita ketiga, jurusan 69 Blok M- Ciledug. Sengaja duduk dekat jendela karena saya turun penghabisan alias ciledug. Ada seorang mas mas kucel setengah beler kayanya. Dari situ saya sudah gelisah nggak pengin mas mas itu yang duduk sebelah saya. Bukan karena nggak cakep, bukan! Tapi firasat udah nggak enak. Dan benar saja. Ketika saya berpura-pura tidur alias memejamkan mata saja. Copet itu tangannya sudah mulai beraksi. Awalnya tuh copet pura-pura tidur dengan tangan yang ingin menjamah saya. Langsung saya berpindah tempat duduk yang kebetulan ada yang kosong.
Notes: Jangan biarkan kalian duduk di dekat jendela dan sekali lagi. Jangan tertidur ya!

Cerita keempat, tepatnya di jembatan penyebrangan hotel Kartika Chandra daerah kuningan. Mau pulang dari kosan teman sekitar pukul 10 malam. Seorang diri sedang menunggu kopaja 66 yang ke Blok M. Cukup lama menunggu, dan ada seorang bapak-bapak yang mendekati saya pakai motor yang saya kira tukang ojek ternyata tuh bapak hanya menanyakan arah ke grogol dan saya jawab. Bapak itu Tanya lagi, “Mba mau kemana?” | “ke Blok M”
Tiba-tiba doi angkat HP dan bilang gini, “Ini saya di kuningan, loe udah dimana? Hah Blok M? katanya grogol? Ya udah deh saya ke sana!”
Begitulah omongannya yang saya dengar. Jelas saja dengar, wong bapak itu ngomongnya sengaja dikeraskan. Maksudnya sih biar saya tahu kalau bapak itu mau ke Blok M juga. Saya sudah menaruh curiga dari doi angkat telepon dan menyebut Blok M. Setelah menutup telepon, bapak itu kembali bertanya, “Mba mau ke blok M ya? | “iya” | “Bareng saya saja mba, saya juga mau ke blok M” | “nggak pak, saya naik angkut saja, ntar lagi juga ada angkotnya.” | “Bareng saya saja yuk! Biar saya tahu arahnya juga.” | “Saya juga nggak tahu arah ke Blok M kalau pakai motor.” | “ Nggak apa-apa mbak, bareng saya saja.”

Nahh loh… kok bisa bapak itu maksa saya buat ikut? Lagian saya juga nggak tahu arah ke Blok M kenapa lagi-lagi bersikeras bapak itu mau ajak saya?
Untungnya nggak lama setelah menolak ajakan bapak itu kopaja yang saya tunggu pun tiba. Dan say good bye deh buat copetnya.
Notes: Jangan nunggu apapun itu di tempat sendirian ya!

Cerita kelima, di dalam mikrolet. Saya lupa jurusan apa, kejadiannya sekitar tahun 2011 pas bulan Ramadhan. Bayangkan! Kondisinya saat itu hanya 4 orang penumpang. Sudah mulai curiga waktu mau naik, soalnya mereka duduk menyebar tidak saling dempet-dempetan. Duduk di pojok belakang kiri kanan dan depan kiri kanan. Jadilah saya duduk di pertengahan mereka. Dengan PD nya saya pegang HP membalas sms teman saya, saat itu memang urgent banget sih kepengin ngebalesin. Tiba-tiba seorang bapak mengomentari ibu yang menggendong anaknya yang sedang rewel. Tetap HP di tangan, sambil melihat sekadarnya saja. Dan sudah tahu gelagatnya yang memerhatikan HP saya. Buru-buru saya turun. Eh tuh copet pakai bilang gini “Turun sini ya mbak?”
Notes: Jangan mudah dialihkan perhatiannya. Jangan mainan HP di angkutan!

Cerita keenam, kopaja 614 jurusan Cipulir-Pasar Minggu. Kondisinya saat itu penuh penumpang. Dan si copet menawarkan saya untuk duduk, kebagian duduk di belakang diapit laki-laki. Dari situ perasaan udah nggak enakan. Pasalnya mereka berdua sudah main lirik-lirikan. Entah ada keberanian apa akhirnya saya pelototin mereka juga sambil mewaspadai tas yang saya dekap. Setelah lihat-lihatan berlangsung akhirnya tuh copet turun. Dan ada yang bertanya ke saya, “Mbak, nggak ada yang hilang kan?” | “Nggak ada mas.”
Notes : Jangan mau duduk diapit laki-laki!

Cerita ketujuh, lagi-lagi metromini 69 jurusan Blok M- Ciledug. Kondisinya penuh penumpang. Dan saya berhasil naik dari pintu depan. Penumpang banyak anak sekolahan. Si copet sengaja sampirin tasnya kedepan modusnya biat gampang nyopetnya. Cerobohnya saya saat itu adalah tote tas disampirin ke samping. Dan si copet berhasil membuka tas resleting dan langsung saja tas saya kedepanin. Nggak lama copetnya turun. Ternyata copetnya berkoloni dan mencar-mencar.
Notes: Tas selalu disampirkan ke depan ya!

Cerita kedelapan, waktu SMU naik mikrolet BO2 jurusan Cikokol-Ciledug. Kondisinya saat itu penuh penumpang. Tumben-tumbenan penuh di B02. Kondisinya saat itu tas saya nggak bisa kekancing rapet. Dengan modus membaca koran, saya melihat tangannya menghampiri tas saya. Jadi, sebelum saya naik angkot orang yang duduk disamping copetnya menyuruh untuk menyediakan tempat duduk saya, maksudnya supaya si copet gampang ngambil isi di dalam tas saya. Dan sesaat saya memergoki copet itu saya mau buru-buru turun dan copet satu lagi yang duduk deket pintu menyogok orang yang duduk di sampingnya pindah tempat duduk dekat pintu maksudnya biar saya susah turun dari angkot.
 Notes: Jangan mau duduk dipojokan mikrolet!

Cerita kesembilan, pertama kali kecopetan.  Zaman SMP di mall Blok M. Waktu itu lagi booming jajanan d’crepes saking booming-nya, yang ngantri banyak. Saya menaruh dompet di kantong celana belakang. Baru tersadar kecopetan pas sudah berhasil dapetin d’crepsnya. Untungnya hanya dompet anak SMP yang nggak ada isinya, soalnya saya menaru uang di kantong celana lainnya dan bukan di dompet.
Notes: Jangan taru dompet di kantong celana!

Itulah rentetan moduser para pencopet dengan macam-macam cara. Selain waspada dan berhati-hati jangan sampai kalian bengong dan melamun di jalan ya! Saya terbiasa berzikir atau bersalawat saat ada di angkutan umum. Alhamdulillah manfaat banget. Nah itu buktinya saat saya memperbanyak zikir dan salawat. 

Rabu

Semangat Lari Pagi




Tepatnya di hari minggu, jam setengah 6 pagi setelah salat subuh.

Hal yang aku lakukan untuk memulai pagi yang indah ini adalah dengan niat joging, dan yang pertama aku lakukan sebelum joging adalah pemanasan. Melemaskan badan yang masih kaku saat bangun tidur itu penting banged sebelum memulai joging. Walau hanya lari tetapi pemanasan itu penting loh, biar nanti pas lari badannya nggak kagetSetelah pemanasan selesai, aku memakai kaus yang mudah menyerap keringat, celana panjang bahan kaus yang mudah menyerap keringat, dan jilbab bergo dengan sepatu ketz yang sangat ringan dipakai.
Aku mulai jalan santai terlebih dahulu dan lama-lama jadi jalan cepat. Saat berjalan ini aku sengaja melepas kacamataku yang sudah minus 4 ini, niatnya adalah juga untuk melakukan olahraga matamembiasakan melihat jarak jauh tanpa kacamata. Rasanya segar sekali tidak memakai kacamata saat udara pagi menerpa wajah ini, yaa.. walau sedikit buram melihat.
Sesampainya di track buat joging, yaitu Regency atau dikenal Graha Raya. Menjadi tempat orang-orang untuk lari-lari pagi sepertiku. Regency menjadi tempat yang ramai dikunjungi saat hari minggu tiba. Ada yang berolahraga dan juga berdagang.

And now time start for RUN... ! Ampuun berasa cepet capek dan mudah keringatan rupanya. Apa karena jarang banged olahraga? Bahkan fakum selama hampir satu tahun? Oh my goodness, padahal dulu joging menjadi acara pavorit aku di hari minggu waktu aku masih SMP.


Sekarang, karena tuntutan usia yang mengharuskan aku untuk berolahraga, menjadi alarm kesehatanku saat ini. Di usia 26 tahun, aku harus memanfaatkan waktu sehatku dengan berolahraga. Selesai joging yang hanya butuh waktu satu jam saja buatku. Aku mengaso kemudian, dengan meminum air putih satu gelas, dan aku merasa kelaparan. Jeng jeng ! aku membuat menu sarapan penuh gizi yaitu telor ceplok dan segelas susu. Telurnya aku kasih lada dan garam loh! mm.. yummy.


Minggu

Perindu kosan


Semalam, kami baru berbincang-bincang lagi di telepon, aku dengan adik kosanku waktu kuliah di malang. Sangat senang rasanya ketika mendengar suaranya nan riang dari kejauhan sana. Kami mengobrol panjang lebar, terutama aku yang selalu bertanya tentang suasana kosan dan kabar kota Malang. Rasanya rindu sekali dengan hal-hal kehidupan di Malang. Adik kosanku bernama ade asli orang Madura, dengan logat kentalnya ia mulai bercerita, kalau suasana kosan sekarang sudah tidak seramah ketika aku dan penghuni lama masih berada di Wisma Kamilia, tempat kami singgah untuk menuntut ilmu.

Wisma kamilia menjadi saksi biksu aku yang sekarang menjadi seorang sarjana. Satu persatu penghuni lama sudah pergi meninggalkan Wisma Kamilia. Nampaknya mereka sama sepertiku yang sudah puas mendapatkan gelar sarjana, lalu tega meninggalkan tempat yang suka maupun duka ada di Wisma. Sepanjang perjalanan menuntut ilmu di Malang, tidur, mandi, makan, belajar, ngobrol, nonton tv, mencuci, menggosok, adalah rentetan kegiatan saat berada di Wisma Kamilia.

Aku merasa sangat nyaman bisa tinggal di kosan yang terlihat elit nan murah itu. Bayangkan saja, Wisma Kamilia seperti hotel yang hanya memiliki 3 lantai dengan berbagai fasilitas:  
tempat tidur, lemari, meja belajar, listrik, dapur dengan kompor gas nya perlorong, kamar mandi 2 di luar perlorong, televisi di luar per lorong, aku hanya membayar 2,5 juta per tahun. Yaa, walaupun aku memlilih kamar yang kecil, tapi menurutku tidak sumpek, aku berada di lantai 3, dan dari arah jendela aku bisa meloncat dan bisa berada di balkon kamarku sendiri. Fasilitas yang memadai menjadi sangat luar biasa, ketika teman-teman kos layaknya keluarga. Aku bisa berteriak memanggil rara di lantai 2, aku bisa menyetel musik sangat kencang ketika pagi, aku bisa salat berjamaah dengan teman-teman kos. Rasanya tidak mau pisah dari mereka. Fasilitas dan suasana di wisma kamilia kini tinggal kenangan, Aku hanya bisa bersedih ketika ade bercerita tidak seramah dahulu, kemudian terlihat individualis, dan penghuni lamanya kini telah pergi satu-persatu. Ade masih satu tahun lagi di Wisma, ia melanjutkan S1 dari selesai D3 nya.

Lalu emak si penjual nasi sayur dan gorengan keliling langganan kami, kini tidak berjualan lagi. Kata ade, sekarang tidak ada yang beli. Jadi ingat, sekitar jam 9 pagi emak sudah meneriaki kami dari lantai 1 “Rek, nasiiii… sayuurrr…. Gorengan, masih anget.” Buru-buru kami menyautinya “Tunggu mak.” Dan lari dengan semangatnya menuruni anak tangga hingga ke lantai dasar. Ah, ternyata aku merindukan masakan emak.

Aku mulai bertanya lagi tentang para penjualan yang sering ng-time di Wisma Kamilia, bagaimana dengan cak dul? Si tukang bakso Malang yang baksonya super duper yummi, mamang bubur? Bubur asli bandung dan mamangnya oge urang sunda, Tukang utuk-utuk? Yang selalu berisik berteriak “Mbaaak, utuk-utuk, weci, getasss!”. Dan ternyata mereka masih berjualan. “Alhamdulillah.” Ucapku. Yang buatku terkejut dari ucapan ade di telepon adalah soal harga satu bakso cak dul kini Rp 2000 per bakso? Sesuatu fenomenal, dulu aku membeli per-bakso-nya hanya Rp 500 saja.

Aku rindu suasana kos di Wisma Kamilia. Kapan aku bisa menjamahnya lagi dan mengatakan. “Kamu gak digusur kan?”