Bagi saya left dari grup WA adalah
sebuah keputusan tersulit, tapi gak ada yang sesulit dari memutuskan untuk
tidur dulu atau makan dulu sih (((bagi saya loh ya))). Akhirnya saya left dari
beberapa grup pertemanan, sekolah, dan grup-grup yang ….. bagi saya saya harus
left!
Kenapa?
Tidak ada akibatnya saya left kalau
tidak ada sebabnya kan ya. Iya loh. Coba saya ungkapkan alasannya ya. Mungkin
beberapa teman-teman saya juga kaget, kenapa saya left dari
grup. Tenang, saya bukan karena marah dan ngambek. Ada yang lebih bahaya dari
itu bila saya tidak kunjung left grup. Saya bertransaksi
dengan saya sendiri. Apa plus dan minusnya dengan grup yang saya ikuti.
Ternyata, banyak minusnya.
Saya ingin menenangkan diri. Terlalu banyak informasi yang saya
dapati, semakin penuh pula pikiran saya. Saya ini orangnya sangat perasa dan
kepikiran. Kalau sudah dua hal ini menghantam saya, hidup saya jadi tidak
mudah, terlebih lagi saya penyintas depresi.
Saya harus meminimalisir informasi yang saya
dapatkan dari grup. Bukannya abai, justru saya kepo yang akhirnya informasi
tersebut memenuhi kandang pikiran saya. Satu-satunya jalan, ya left grup
WA.
Dengan left grup WA, pegang HP pun
jadi berkurang. Biasanya saya tahan berlama-lama pegang HP karena ada notif WA
atau main media sosial. Saya bahas di sini, mencoba untuk mengurangi main media
sosial. (klik: Alasan Mengurangi Main Instagram dan Facebook )
Tapi, nggak semua grup saya left dan
tidak ada 1 grup pun saya join di dalamnya. Saya hanya join grup
kantor, keluarga, dan kegiatan saya. Karena kalau saya left grup
tersebut, ya saya bisa ketinggalan informasi penting dan masih berhubungan
dengan aktivitas yang saya jalani saat ini.
Untuk yang tidak ada hubungannya dengan aktivitas
yang saya jalani, ya saya left grupnya. Seperti, grup SD
sampai kuliah. Saya sedih sih sebenarnya untuk left grup
reunian ini. Lagi-lagi saya merenung lama untuk left dari grup
tersebut, saya bakal tidak bisa mendengar informasi dari teman-teman lagi
dan joke-joke mereka. Tapi biasanya kalau grup sekolah itu, 90
persennya ngobrolin hal-hal remeh dan yang diajak ngobrol mereka-mereka lagi
aja gitu. Sebagian lainnya jadi silent reader. Saya penginnya, yang silent
reader ini juga ikut nimbrung sekadar chat sapa halo, atau lain-lain
lah. Lagi-lagi, yang chat di grup orangnya dia lagi dia lagi,
jadi nggak seru kan ya? Ya sudahlah left aja :P
Saya mikirnya gini, kalau memang mau berkomunikasi
dengan saya. Mereka toh bisa saja japri saya. Lagian, kalau japri gitu
komunikasi kita kan lebih romantis kan. Hai apa kabar kamu? Iya Kamu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar