Nggak semua orang berhasil untuk tidak main media
sosial lagi, atau setidaknya mengurangi pemakaian media sosial. Hidup menjadi
seorang minimalis dengan mengurangi intensitas bermain media sosial atau tidak
main media sosial lagi harus dipraktikkan dan dijalankan. Agar hidup bisa back
to 90’s, uwww..
Media sosial itu ada plus minusnya. Ya tergantung
individu itu menggunakannya. Nah, bagi seseorang yang banyak mendapatkan
mudharat (hal-hal yang membawanya tidak bermanfaat) media sosial itu danger for
them. Sebaliknya, kalau yang aman-aman saja. Ya silakan dilanjutkan untuk pakai
media sosial J.
Nah, kalau saya. Saya mencoba untuk mengurangi
media sosial. Untuk saat ini, Instagram dan facebook. Saya tidak menginstallnya
lagi. Mungkin tidak hanya saya yang bermain media sosial dengan waktu yang lama
sampai-sampai lupa waktu dan, bisa kedistraksi kalau lagi fokus kerja.
Kalau sudah seperti itu kan bencana ya. Kita jadi
nggak produktif. Saya bisa loh tahan 5 jam cuma megangin HP semua media sosial
saya akses. Cuma scroll-scroll doangan!! Gilak sih..
Saya sadar, saya salah. Makanya, saya uninstall
Instagram dan facebook. Karena pekerjaan saya membutuhkan informasi, yang
sewaktu-waktu bisa didapatkan dari kedua media sosial ini. Jadi, saya bisa
mengaksesnya ketika penting saja via browser. Kalau saya install, saya bisa
jadi gilak lagi. Dan saya nggak mau itu. (Kepoin Juga: Sampai Left Grup WA )
Yang saya install itu: Youtube, Twitter, Pinterest.
Kalau ketiga media sosial ini, saya bisa mengatasinya dengan baik. Ko bisa?
Karena tidak banyak teman yang memiliki akun pada ketiga media sosial tersebut,
yang mana… saya jadi tidak ambil pusing dan merasa nyaman-nyaman saja.
Berbeda dengan Instagram dan Facebook saya. Duh,
gimana ya saya ceritainnya. Instagram dan Facebook membuat hati saya tidak
nyaman. Banyak hal-hal yang membuat saya begitu, dari banyaknya informasi
sampai melihat dalam dunia maya kehidupan seseorang yang tidak ada gunanya buat
saya.
Saya berpikir, kenapa orang mau memposting daily
lifenya mereka, kalau tidak membuat yang melihatnya terinspirasi atau membawa
manfaat untuk mereka yang lihat?
Misalnya, dia posting hasil masakannya, jalan-jalan,
atau sebar opini mereka, kata-kata motivasi, dan bersifat menginformasi itu
masih masuk akal buat saya.
Dengan saya mengurangi main media sosial, saya jadi
jarang posting apa pun lagi lewat media sosial. Apalagi dulu dulu, parah akutu.
Ada kalanya aku memposting hal-hal yang tidak berguna bagi orang lain.
Saya posting foto selfie (lah buat
apa?) Kalau saya posting foto selfie, biasanya saya habis make up,
ngerasa hasil make up saya bagus, ya saya posting. Lama-lama saya sadar, justru
saya risih dilihat dengan hasil muka bermake up. Awalnya sih senang dilike dan
dibanjiri pujian, tapi sadar kalau selfie bisa jadi penyakit Ain juga kan ya?
Untuk itulah saya mencoba tidak lagi posting foto selfie.
Saya posting juga kerap dengan kata-kata opini yang
menyakitkan. Di facebook dan instagram saya sering berdebat dengan
komentar-komentar orang. Ternyata saya pengkritis. Lama-lama sadar, nggak baik
begitu, karena takut orang sakit hati dengan komentar saya. Orang yang sakit
hati dengan kita, itu dosanya masih ada di kita sampai ia mau memaafkan.
Itu buat saya sih begitu, nggak tahu kalau kamu
gimna. Jadi kembali ke diri kita masing-masing aja sebenarnya. Bisa nggak media
sosial itu jadi bermanfaat buat kita. Kalau justru lebih banyak mudharatnya,
tinggalkan atau kurangi. Atau kalau pekerjaanmu related di media sosial seperti
influencer atau buzzer saya jadi nggak masalah buat itu, karena itu hobi dan
pekerjaan kamu. Di sini saya tidak menyudutkan orang yang pakai media sosial
dengan tidak baik. Ini murni karena saya begitu, jadi saya lakukan hal begitu.
Jadi, kalau masih ada yang tersinggunng atau gimana-gimana. Saya mohon maaf ya.
Setidaknnya kita bisa menggunakan media sosial dengan bijak kan? Kalau kamu
gimana? Bisa apa nggak jauhin media sosial untuk saat ini? Saya pengin tahu
deh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar