Minggu

Syahdu Banget Nontonin Ini! Hyuri's Bed and Breakfast



Saat ini, orang lagi happening banget nonton dan ngomongin drama korea The World of The Married. Saya justru sedang menikmati nonton reality show Hyuri’s Bed and Breakfast. Tontonan yang realistis dan bukan drama penuh intrik ataupun keseruan lainnya.
Padahal tontonan ini udah lama tayang dari tahun 2017, tapi baru dapat rekomendasi dari Aileen (salah satu Youtuber panutanku). Akhirnya ikutan nonton.

Di acara ini ada IU yang jadi pegawainya Hyuri (macam asisten rumah tangga). Saya nggak tahu siapa itu Hyuri, tapi tahu IU. Jadi saya cari tahulah Hyuri, dan ternyata Divanya korea selatan ya? Pada eranya, Hyuri ini jadi idolanya orang-orang korea. Jauhhhh sebelum adanya girls band SNSD apalagi BlackPink. Usia Hyuri udah 40 tahunan dan udah ada eksis di entertain puluhan tahun.

Hyuri menikah dengan Lee Sang Soon, seorang musisi juga dan tinggal di Jeju. Wah gila ini sih, halaman rumahnya luas banget, tapi rumahnya kecil. Hyuri belum punya anak, jadi mereka tinggal sama kucing dan anjingnya yang lucu-lucu.

Nah, Hyuri’s Bed and Breakfast konsepnya gini: Si Hyuri buka homestay, jadi nanti akan ada tamu-tamu yang bakal nginap di tempat tinggalnya. Tanpa pembantu, hyuri dan suami melayani para tamu melayani mereka senyamannya. Siapa yang nggak berkesan coba, dibuatin sarapan, dan makan malam sama seorang DIVA?

Nggak ada pembantu, tapi IU datang buat jadi pegawainya. Hyuri nggak tahu kalau yang jadi pegawainya itu IU. Bayangin IU jadi pegawai katakanlah asisten rumah tangga mereka? IU seorang superstar melayani para tamu dengan berbagai latar belakang dan karakter.
Dan, di sini saya lihat IU benar-benar jadi dirinya sendiri. Saya justru hampir nggak mengenali IU sebagai seorang penyanyi terkenal. Saya pun baru terpesona padanya. Saya ketawa ngakak lihat ekpresinya IU yang nampak apa adanya itu. Waah, kamu yang suka IU kudu nonton!   
Reaksi para tamu yang datang ke rumah Hyuri, rata-rata pada bilang kayak mimpi pernah ngerasain pengalaman ini. Katanya nggak mau buru-buru pulang, kayak masih betah gitu.

IU yang lagi nggak ada schedule kerjaan dan pilih syuting di Hyuri’s Bed and Breakfast juga ngerasain kayak gitu. Dia nggak bisa lupain momen ini.
Saat pertama kali IU datang ke rumah Hyuri, IU kelihatan canggung. Tapi doi, semangat banget kerjanya dan paling suka buat cuci piring!

Hyuri bilang di episode berapa gitu saya lupa. IU orangnya nggak banyak bicara, bukan orang yang humoris. Kemungkinan akan sulit banget buat jadi IU yang harus ketemu banyak fans, klien, atau orang-orang yang sering doi temui.
Hyuri’s Bed and Breakfast tontonan yang natural banget, dan apa adanya. Banyak insight yang saya dapat ambil dari tontonan ini. Di mana, ada momen-momen Hyuri ngobrol dengan para tamu dan IU, berasa kayak memotivasi diri ini juga. Terasa lebih menyentuh sih, tapi nggak yang mewek-mewek kayak drama korea gitu.
Dan efek nonton ini adalah, saya jadi mau pergi liburan! Kangen momen traveling bareng teman-teman.
Hyuri’s Bed and Breakfast juga ada season 2 nya, yang jadi pegawainya Yoona SNSD sama Park Bo Gum.
Sudah saya ulas di sini: 
Hyuri's Bed and Breakfast Season 2

Kamis

Awalnya Jadi Blogger yang Dibayar dan Jadi Endorser di Instagram



Saya nggak pernah menyangka kalau akun Instagram dan blog yang saya buat ini bisa ngasilin uang atau jadi seorang endorser layaknya selebgram atau influencer lainnya. Berangkat dari suka nulis apa pun di blog sejak 2009an dan gabung dengan komunitas Indonesian Hijab Blogger, saya pun kerap kali diundang pada beberapa event. Dalam event itu pun, saya akan menulis apa pun dan mempostingnya di Instagram, dan tergantung permintaan klien.


Awalnya, saya nggak dapat fee dari event tersebut, karena siapa lah saya, itu pun followers nggak banyak-banyak amat. Karena saya suka bertemu orang baru dan suka datang ke suatu event, jadi saya senang banget dan menyukai aktivitas baru ini. Jadi, kalau ada event apa pun, pasti saya dengan senang hati akan hadir.


Beruntungnya saat ikutan event itu, saya pasti akan bertemu dengan blogger dan influencer kece lainnya. Terus pulang-pulang dikasih goodie. Lamban laun, pengunjung di blog saya ini pun bertambah, banyak yang ninggalin komen di blog, dan DA/PA saya pun mengalami peningkatan. Kalau sudah angka DA/PA meningkat, klien mana pun juga akan melirik dan dengan senang hati seorang blogger bisa memberikan ratecard pada klien ini. Namun, sayang sekali prestasi saya belum sampai dilirik klien.
Saya mendapatkan fee dari menulis blog ini, justru ketika saya aktif melihat kesempatan di grup Facebook (bukan grup IHB) yang banyak sekali klien meminta seorang blogger untuk datang ke suatu event dan meminta dituliskan sesuai syarat-syarat dari si klien ini.


Sebenarnya jadi seorang Blogger hampir-hampir mirip dengan pekerjaan jurnalis. Bedanya, Blogger tanpa kode etik jurnalistik. Karena saya pun pernah meliput suatu event saat bekerja jadi seorang jurnalis untuk media online Pingpoint.co.id (nulis event royco). Saya pun merasakan perbedaan tulisan untuk blog dan untuk media. Di media pun ada banyak sekali jenis suatu tulisan dalam kaidah jurnalistik loh.


Terlepas dari seringnya ikut-ikutan event, di dalam sebuah Whatsapp Group Indonesian Hijab Blogger (IHB) pun saya banyak belajar mengenal dunia content creator (kalau boleh bangga, ada banyak influencer hijaber kece dalam satu grup WA ini loh).


Semenjak tahu dunia content creator, pekerjaan saya yang tadinya editor buku pun akhirnya terganti dengan menjadi seorang content writer. Kedua profesi itu memang tidak jauh berbeda sih, sama-sama dalam dunia menulis dan kreatif. Tapi, saya lebih ingin mendalami sebagai seorang content creator atau seorang content writer handal, karena akhirnya saya tahu yang saya ingini dan bakat dalam bidang itu. Kalau kamu belum subsc channel Youtube saya, subs yuk! Ini linknya Konten Masak nih  

Healing Banget Nontonin Hyori's Bed and Breakfast



Assalamualaikum, ahlan wa sahlan?

Akhirnya kesampaian juga lanjutin nonton reality show Hyori’s Bed and Breakfast Season 2. Kali ini yang jadi pegawainya si Yoon Ah SNSD. Dari awal debut SNSD, salah satu bias saya si Yoon Ah. Jadi, excited banget nontonnya.
Hyori’s Bed an Breakfast dibuka lagi di musim dingin alias bersalju di Jeju. Dari episode 1 salju udah mulai menyelimuti Jeju. Selama nonton, saya ikutan merasa kedinginan, dan ternyata sensasi dinginnya sampai ke bawa-bawa yang nonton (agak lebay sih, tapi cius). Di season ini pun ada tambahan tenda penghangat di musim dingin dan bak air panas. Seperti season sebelumnya, para tamu benar-benar dimanjakan dengan pelayanan si Tuan rumah. Latar belakang tamu pun dibuat beda dari season 1. Duh! Konsepnya benar-benar matang banget di reality show ini.

Dibandingkan dengan IU atau Jie Un, Yoon Ah lebih cepat membaur, ceria dan pecicilannya sama kayak Hyori. Yoon Ah juga ternyata jago banget soal ngurus rumah. Wah ini sih yang bikin saya terkejut dengan casing Yoon Ah yang kayaknya gak bisa apa-apa dan justru kebalikannya. Hyuri’s juga bilang gitu.
Saya ulas Hyori's Bed and Breakfast Season 1 juga di sini: Hyuri's Bed and Breakfast yang Ada IU

Yang bikin spesial di season 2 kali ini, Park Bo Gum datang sebagai pegawai tambahan dan hanya 3 hari aja bekerja buat gantiin Sang Soon yang pergi ke Seoul karena ada kerjaan di sana. Ngemeng-ngemeng soal Park Bo Gum, saya baru tahu dia di Reply 1988 dan pas doi di Hyori’s Bed and Breakfast saya jadi makin penasaran kayak apa aslinya doi. Yap, nontonin ini bakal tahu kayak apa aslinya. Kalau kamu udah nonton Reply 1988 dan nontonin Park Bo Gum di sana, beda banget sama aslinya. Dia nggak lemah! Saya juga kaget pas lihat Park Bo Gum yang semangat kerjanya. Orangnya penuh semangat, apalagi pas makan. Makan mulu nih cowok. Seimbang sih sama kerjanya: banyak makan, banyak kerja.

Dan, jeng jeng.. ada momen manis waktu sama Yoon Ah loh. Ah kamu harus nonton sih ini (tenang, gak saya bocorin di marih).





Paling seru saat semuanya main mafia dan warga kayak mirip main warewolf gitu lah. Ini episode terlucu sih menurut saya. Saya sampai ngikik sendiri lihatnya. Ah kamu cepetan buruan nonton.. !
Selama nonton Hyori’s Bed and Breakfast season 1 dan 2 ini, saya jadi senang sama couple Lee ini. Pasangan ini ternyata sama gilanya dan serunya. Sependapat sama salah satu komentar netizen, awalnya saya pikir Sang Soon beruntung dapetin Hyori yang cantik dan mantan penyanyi seksi pada zamannya. Eh pas nontonin kehidupan real mereka, kayaknya mereka sama-sama beruntung deh. Walau Sang Soon terlihat cuek dan nggak romantis, tapi terlihat dari sikapnya dia ke Hyuri (no drama).  Selain itu, selalu suka scene masak-masak untuk para tamu. Jadinya aku kan tahu menu makanan korea di sana (hehe).
Nontonin ini berasa healing, walau nggak seru, tapi nyaman banget nontonnya. Saya jadi semangat buat bersih-bersih rumah, masak, yoga, mau banyakin liburan juga (tapi pas pandemi ini kayaknya nggak bisa dulu), terus jadi mau sedikit berani ngomong bahasa inggris sama orang native speaker. Di Episode 12 ada tamu dari America yang nggak bisa ngomong bahasa korea, otomatis obrolannya sedikit lebih banyak pakai bahasa inggris kan, nah si Hyori ini juga nggak mahir-mahir amat pakai bahasa inggris tapi berani buat ajakin ngobrol sama tamunya (ya mau nggak mau harus bisa). Jadi trigger buat saya untuk berani ngobrol bahasa inggris walau nggak mahir-mahir amat. Buktinya, selama Hyori ajak ngobrol sama Jackson (tamunya dari America ini) nyambung-nyambung aja tuh dan nggak jadi masalah buat dia.

Dan saya juga suka momen saat pemberian hadiah dari para tamu, walau nggak mahal tapi means a lot buat mereka (Hyuri, Sang Soon, dan Yoon Ah) hadiahnya juga masih yang berhubungan dengan profesi atau latar belakang mereka. Kayak di season 1 aja, ada tamu seorang cheff  buatin selai buatannya sendiri atau ada nenek-nenek buatin arak beras. Manis banget kan? Ternyata hadiah kecil kayak gitu juga bikin senang seseorang ya? Gak musti mahal dan banyak.
Dan seperti biasa, abis nonton ini. Jadi mau H O L I D A Y.  Bener-bener healing deh nonton Hyori's Bed and Breakfast
The end_

Sabtu

Mencoba Mengurangi Main Media Sosial



Nggak semua orang berhasil untuk tidak main media sosial lagi, atau setidaknya mengurangi pemakaian media sosial. Hidup menjadi seorang minimalis dengan mengurangi intensitas bermain media sosial atau tidak main media sosial lagi harus dipraktikkan dan dijalankan. Agar hidup bisa back to 90’s, uwww..

Media sosial itu ada plus minusnya. Ya tergantung individu itu menggunakannya. Nah, bagi seseorang yang banyak mendapatkan mudharat (hal-hal yang membawanya tidak bermanfaat) media sosial itu danger for them. Sebaliknya, kalau yang aman-aman saja. Ya silakan dilanjutkan untuk pakai media sosial J.

Nah, kalau saya. Saya mencoba untuk mengurangi media sosial. Untuk saat ini, Instagram dan facebook. Saya tidak menginstallnya lagi. Mungkin tidak hanya saya yang bermain media sosial dengan waktu yang lama sampai-sampai lupa waktu dan, bisa kedistraksi kalau lagi fokus kerja.

Kalau sudah seperti itu kan bencana ya. Kita jadi nggak produktif. Saya bisa loh tahan 5 jam cuma megangin HP semua media sosial saya akses. Cuma scroll-scroll doangan!! Gilak sih..

Saya sadar, saya salah. Makanya, saya uninstall Instagram dan facebook. Karena pekerjaan saya membutuhkan informasi, yang sewaktu-waktu bisa didapatkan dari kedua media sosial ini. Jadi, saya bisa mengaksesnya ketika penting saja via browser. Kalau saya install, saya bisa jadi gilak lagi. Dan saya nggak mau itu. (Kepoin Juga: Sampai Left Grup WA )

Yang saya install itu: Youtube, Twitter, Pinterest. Kalau ketiga media sosial ini, saya bisa mengatasinya dengan baik. Ko bisa? Karena tidak banyak teman yang memiliki akun pada ketiga media sosial tersebut, yang mana… saya jadi tidak ambil pusing dan merasa nyaman-nyaman saja.

Berbeda dengan Instagram dan Facebook saya. Duh, gimana ya saya ceritainnya. Instagram dan Facebook membuat hati saya tidak nyaman. Banyak hal-hal yang membuat saya begitu, dari banyaknya informasi sampai melihat dalam dunia maya kehidupan seseorang yang tidak ada gunanya buat saya.

Saya berpikir, kenapa orang mau memposting daily lifenya mereka, kalau tidak membuat yang melihatnya terinspirasi atau membawa manfaat untuk mereka yang lihat?

Misalnya, dia posting hasil masakannya, jalan-jalan, atau sebar opini mereka, kata-kata motivasi, dan bersifat menginformasi itu masih masuk akal buat saya.

Dengan saya mengurangi main media sosial, saya jadi jarang posting apa pun lagi lewat media sosial. Apalagi dulu dulu, parah akutu. Ada kalanya aku memposting hal-hal yang tidak berguna bagi orang lain.

Saya posting foto selfie (lah buat apa?) Kalau saya posting foto selfie, biasanya saya habis make up, ngerasa hasil make up saya bagus, ya saya posting. Lama-lama saya sadar, justru saya risih dilihat dengan hasil muka bermake up. Awalnya sih senang dilike dan dibanjiri pujian, tapi sadar kalau selfie bisa jadi penyakit Ain juga kan ya? Untuk itulah saya mencoba tidak lagi posting foto selfie.  

Saya posting juga kerap dengan kata-kata opini yang menyakitkan. Di facebook dan instagram saya sering berdebat dengan komentar-komentar orang. Ternyata saya pengkritis. Lama-lama sadar, nggak baik begitu, karena takut orang sakit hati dengan komentar saya. Orang yang sakit hati dengan kita, itu dosanya masih ada di kita sampai ia mau memaafkan.

Itu buat saya sih begitu, nggak tahu kalau kamu gimna. Jadi kembali ke diri kita masing-masing aja sebenarnya. Bisa nggak media sosial itu jadi bermanfaat buat kita. Kalau justru lebih banyak mudharatnya, tinggalkan atau kurangi. Atau kalau pekerjaanmu related di media sosial seperti influencer atau buzzer saya jadi nggak masalah buat itu, karena itu hobi dan pekerjaan kamu. Di sini saya tidak menyudutkan orang yang pakai media sosial dengan tidak baik. Ini murni karena saya begitu, jadi saya lakukan hal begitu. Jadi, kalau masih ada yang tersinggunng atau gimana-gimana. Saya mohon maaf ya. Setidaknnya kita bisa menggunakan media sosial dengan bijak kan? Kalau kamu gimana? Bisa apa nggak jauhin media sosial untuk saat ini? Saya pengin tahu deh.

Memutuskan Keluar dari Group Whatsapp



Bagi saya left dari grup WA adalah sebuah keputusan tersulit, tapi gak ada yang sesulit dari memutuskan untuk tidur dulu atau makan dulu sih (((bagi saya loh ya))). Akhirnya saya left dari beberapa grup pertemanan, sekolah, dan grup-grup yang ….. bagi saya saya harus left!
Kenapa?
Tidak ada akibatnya saya left kalau tidak ada sebabnya kan ya. Iya loh. Coba saya ungkapkan alasannya ya. Mungkin beberapa teman-teman saya juga kaget, kenapa saya left dari grup. Tenang, saya bukan karena marah dan ngambek. Ada yang lebih bahaya dari itu bila saya tidak kunjung left grup. Saya bertransaksi dengan saya sendiri. Apa plus dan minusnya dengan grup yang saya ikuti. Ternyata, banyak minusnya.
Saya ingin menenangkan diri. Terlalu banyak informasi yang saya dapati, semakin penuh pula pikiran saya. Saya ini orangnya sangat perasa dan kepikiran. Kalau sudah dua hal ini menghantam saya, hidup saya jadi tidak mudah, terlebih lagi saya penyintas depresi.
Saya harus meminimalisir informasi yang saya dapatkan dari grup. Bukannya abai, justru saya kepo yang akhirnya informasi tersebut memenuhi kandang pikiran saya. Satu-satunya jalan, ya left grup WA.
Dengan left grup WA, pegang HP pun jadi berkurang. Biasanya saya tahan berlama-lama pegang HP karena ada notif WA atau main media sosial. Saya bahas di sini, mencoba untuk mengurangi main media sosial. (klik: Alasan Mengurangi Main Instagram dan Facebook )
Tapi, nggak semua grup saya left dan tidak ada 1 grup pun saya join di dalamnya. Saya hanya join grup kantor, keluarga, dan kegiatan saya. Karena kalau saya left grup tersebut, ya saya bisa ketinggalan informasi penting dan masih berhubungan dengan aktivitas yang saya jalani saat ini.
Untuk yang tidak ada hubungannya dengan aktivitas yang saya jalani, ya saya left grupnya. Seperti, grup SD sampai kuliah. Saya sedih sih sebenarnya untuk left grup reunian ini. Lagi-lagi saya merenung lama untuk left dari grup tersebut, saya bakal tidak bisa mendengar informasi dari teman-teman lagi dan joke-joke mereka. Tapi biasanya kalau grup sekolah itu, 90 persennya ngobrolin hal-hal remeh dan yang diajak ngobrol mereka-mereka lagi aja gitu. Sebagian lainnya jadi silent reader. Saya penginnya, yang silent reader ini juga ikut nimbrung sekadar chat sapa halo, atau lain-lain lah. Lagi-lagi, yang chat di grup orangnya dia lagi dia lagi, jadi nggak seru kan ya? Ya sudahlah left aja :P
Saya mikirnya gini, kalau memang mau berkomunikasi dengan saya. Mereka toh bisa saja japri saya. Lagian, kalau japri gitu komunikasi kita kan lebih romantis kan. Hai apa kabar kamu? Iya Kamu.

Membuat Bullet Journal pada Tahun Baru 2019



Wah nggak kerasa ya sudah masuk tahun 2019. Alhamdulillah kita bisa sampai pada tahun ini. Hampir di tahun baru, semua orang senang menyambutnya karena di situlah ada harapan-harapan baru, resolusi dan beberapa goals yang akan kita lalui. Saya sangat senang sekali menyambut tahun baru ini: doa-doa serta harapan-harapan baik semoga dapat terwujud pada tahun ini.  Karena pada tahun sebelum-sebelumnya ada harapan yang menjadi goals saya dan belum terwujud di tahun kemarin. Semoga saja di tahun ini, harapan-harapan itu menjelma menjadi nyata, Amiin.


Seperti biasa saya suka sekali membuat perencanaan-perencanaan di Bullet Journal seperti yang pernah saya buat pada tahun sebelumnya di 2017 dan 2018. Yap, saya baru memulai Bullet Journal pada tahun 2017. Tapi kalau untuk goals, sudah menjadi rutinitas saya menuliskannya pada sebuah kertas. Biar apa? Biar terwujud. Karena saya meyakini kata atau tulisan adalah bagian dari doa.

Dan pada tahun 2019 ini, saya membuat beberapa setup yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Karena pada tahun sebelumnya, saya membuat beberapa spread tetapi tidak terisi. Tahun ini, saya sudah mengerti apa maunya saya dan bagaimana saya akan berkomitmen dengan Bullet Journal yang saya buat, terutama untuk setup tahunan ini.




Di awali dengan kalender tahunan, saya membuatnya dengan membagi per tiga bulanan secara horizontal. Dan diberi space di sebelah kanannya, saya akan menaru catatan di sampingnya setiap bulan, bisa goals yang saya akan tulis untuk tiap bulannya atau sebuah momen penting yang ada pada bulan tersebut (bisa project yang saya buat, even, atau janji istimewa). 

Membaginya dalam tiga bulanan, saya rasa sangat efisien untuk memantau perkembangan goals saya atau hal-hal penting yang akan saya buat. Jadi saya tidak merasa ngos-ngosan melihat langsung 12 bulan dalam satu halaman. Kayak merasa terburu-buru atau maunya cepat-cepat berlalu. Padahal enaknya dalam tiap bulan, ya kita nikmati saja waktunya.

Lanjut ke halaman bagian goals, saya membaginya ke beberapa poin penting:

Bussiness: Ada project yang mau saya buat di dalam sini.

Leisure:  Ada beberapa traveling/trip yang saya mau jelajahi (doain semoga tabungannya cukup ya gengs).

Personal Growth: Namanya juga manusia, ada aja yang kurang-kurang dan mau memperbaiki lebih baik dari tahun sebelumnya.

Spiritual: Harus ada goals-nya dong, apalagi seorang muslim yang tujuan hidup di dunia hanyalah untuk ibadah kepada Allah.

Career:  Saya memang sudah nggak kerja kantoran lagi bukan berarti nggak ada karir dalam hidup saya yang mau saya capai pada tahun ini.

Health: Kesehatan itu penting gengs dan harus diupayakan apalagi aset untuk masa depan nanti. Biar kalau tua, masih stay health and fit.

Relationship goals. Di sini, kamu bisa tambahkan poin relationship. Misal, kamu ingin menikah pada tahun ini, tulis saja ikhtiar apa saja yang bisa kamu lakukan: Mengikuti kelas pranikah, melahap ilmu parenting, shalawat 1000x, ikut program ta’aruf, ikut dating online, dll.  


Karena ada goals jalan-jalan yang mau saya jelajahi, saya mau membuat lists ini sebanyak-banyaknya. Ya tulis saja sebanyak-banyaknya, kalau sebagian ada yang terwujud tahun ini ya Alhamdulillah, kalau nggak? Ya apa boleh buat, namanya juga keinginan dan Allah yang Maha Berkehendak.

Untuk book lists, kadang saya suka zong beli buku yang ternyata isinya nggak begitu saya sukai, kalau nggak saya suka ya nggak dibaca sampai habis. Jadi sia-sia kan kalau udah kebeli tapi nggak kebaca. Jadi saya buatlah listing book ini yang mana saja nih: buku rekomen orang-orang dan beberapa judul buku dengan penulis yang sudah saya tahu gaya bahasanya asik dan isinya smart.


Apa sih yang membuat saya bahagia ketika saya melakukan sesuatu dan menjadi mood boaster saya. Atau saya merasa tenang ketika saya melakukan sesuatu tersebut. Saya buatlah selfcare ini semacam me time agar jiwa dan raga kembali kalem. (tsailah)

Saya itu tipe orang yang banyak maunya, tapi nggak mau-mau amat. (haha ngerti nggak tuh?) Ya begitulah, saya buat saja daftar keinginan saya dengan membagi dua hal: Need dan Want. Karena biar saya tahu, mana nih yang benar-benar harus saya beli. Atau cuma kepengin aja tapi belum butuh amat.


Karena saya nggak ada pemasukan yang tetap lagi dan sudah nggak jadi karyawati. Saya jadi mulai perhitungan dengan pengeluaran saya. Dan saya lebih suka pengeluaran perbulan seperti ini.


Ada goals saya ingin lebih konsisten dalam menulis blog. Nggak konsisten itu karena emang lagi nggak tahu mau menulis apa. Ide nggak ada, jadi waktu posting pun sesempatnya. Dan saya membaginya ke dalam beberapa bagian: Traveling, Article, Personal Growth, Beauty. Nanti saya akan taru tuh beberapa ide yang saya mau tulis di blog. Biasanya saya simpan ide itu di gawai dan tinggal saya mutasi ke Bullet Journal saya ini deh.

Dan ini, maaf tanpa ada unsur riya, saya mau berbagi Plan/Schedule hafalan Al-Qur'an ke kalian. Mana tahu ada yang lagi ingin menghafal Al-Qur’an dan syukur-syukur, ada yang tergugah mau mulai menghafal Al-Qur’an.  Ini saya kasih bocorannya sedikit. Mau tahu lebih detailnya klik Buat Jadwal Menghafal Al-Quran

Dan itulah penampakan Bujo Tahunan saya, ada juga Bujo bulanan saya loh. Kalau mau kepo bisa klik Bullet Journal Bulanan.

Nah, kalian, di tahun 2019 apa sama kayak saya, membuat Bullet Journal atau cuma nulis goals saja? Share dong di komen. Terima kasih.


Kamis

Main-main ke Kampung Main Cipulir



Liburan anak sekolah di Ciledug enaknya ke mana? Itulah yang saya pikirkan, saat keponakan saya ada di Ciledug. Nggak ingin pergi jauh, untuk mencari tempat hangout bareng family di Ciledug ada amatlah banyak pilihannya. Hehe yakin? Yakinn.. apalagi udah ada tempat liburan yang hampir semua usia bisa menikmatinya di sini, di Kampung Main Cipulir. Sudah pernah dengar dari semenjak awal buka, tapi belum kesampaian ke sana dan berpikir: ini tempat main di Cipulir mananya?




Lalu, ketika liburan yang sangat mendesak ini. Saya pun akhirnya googling untuk melihat fasilitas dan harga tiket masuk. Ok, nggak terlalu mahal. Dan beberapa hari kemudian. Kami pun berangkat. Keponakan ikut, adik, dan kakak ngikut, emak juga ikut. Pergi di hari sabtu sekitar pukul 10.00 (kesiangan sih, tapi tak apalah).  Mencari Kampung Main Cipulir via google maps, ternyata salah arah pemirsa, kami mentok di gang kecil. Nanya seseorang, katanya juga ada beberapa orang yang nyasar nyari Kampung Main Cipulir di sini.

Mengandalkan petunjuk orang yang ditanya, tak jauh dari tempat kami nyasar, sampailah di Kampung Main Cipulir. Kamu jangan kaget ya, kalau tempatnya di ujung dan nyempil gitu (di area perumahan). Sepanjang jalan menuju pintu masuk, kang jajan banyak. Ahh apa aja jadi mau dibeli. Harga tiket masuk perorang bayar 7000 Rupiah belum termasuk fasilitas permainan lainnya ya. Karena, di Kampung Main Cipulir ini, ada tempat renang, panahan, kudaan, odong-odong, outbond yang kudu kamu bayar lagi kalau mau main.







Piknik bareng keluarga emang asik sih, bawa bekal dan makan lesehan. Nyari tempat yang gratisan, beruntungnya kami dapat tempat yang adem lah. Selesai makan bareng, saya shalat. Ada musalanya: adem gengs! Lalu saya menemani keponakan saya yang ingin naik kuda, bayar 10.000 per anak cukup murah bukan?

Buat kamu yang banci foto. Di Kampung Main Cipulir juga ada tempat yang asik buat cekrek-cekrek nih. Ada jembatan unyu, rumah betawi, papan kupu-kupuan. Mayan kan ya, buat nambahin galeri foto di HP (wkwk). Keponakan saya berenang, harga tiket masuk 30.000 Rupiah per orang. Sambil menunggu keponakan berenang, saya pun berkeliling Kampung Main Cipulir.




Kebetulan di hari yang sama, ada perlombaan suara burung. Kali pertama nih, saya tahu perlombaan suara burung yang diadu dengan burung peserta lainnya. Sangat disayangkan, para peserta yang ikut lomba, ternyata lomba merokok juga (dalam artian tidak sebenarnya) asap-asap rokok mengembang di udara. Kami pun akhirnya berpindah tempat. Selesai para keponakan berenang, saya mengajak main ponakan yang masih kecil ke beberapa tempat area bermain anak. Lumayan tersedia banyak dan berfungsi dengan cukup baik.


Setelah keponakan puas bermain di Kampung Main Cipulir, kami pun kembali pulang. Menurut saya, tempat tersebut memang cocok untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Jadi, buat kamu yang tinggal di Ciledug dan sekitarnya tak perlu bingung lagi cari-cari tempat liburan bareng keluarga deh, tinggal datang saja ke Kampung Main Cipulir, kamu dan keluarga akan menikmati keseruannya!

Selasa

Mengintip Perkampungan a la Eropa di Devoyage Bogor



Kali ini Devoyage Bogor menjadi sasaran perjalanan saya. Devoyage yang mengusung tema perkampungan a la Eropa ini menjadi tempat paling hits di Bogor, lagi kekinian karena tempatnya yang instagramable.
Yuk, intip perkampungan Eropa di Devoyage Bogor!

Naik apa ke devoyage? 


Saya bersama Nurul dan Mbak Tree janjian di Stasiun Bogor pukul 11.00 WIB. Because i’m come from Ciledug. Jadi, mulai pukul 08.00 WIB saya sudah otw. Pukul 11.40 WIB saya baru sampai di Stasiun Bogor (untung nggak dijitak Mbak Tree dan Nurul). Dari Stasiun, saya order angkutan online tinggal set aja deh, tempat tujuan “devoyage” Nanti langsung ada deh tuh namanya. 

Harganya hanya 46.000 yang bisa kami share ongkosnya bertiga (lumayan kan, bisa irit). Kami menunggu di Bank BJB setelah melewati jembatan penyebrangan dan melalui pagar yang panjang itu. Cukup lama menunggu angkutan online, 10 menit kemudian, baru kami dijemput pas di depan Bank BJBnya.

TIPS: Buat kamu yang tidak membawa kendaraan pribadi, angkutan online adalah salah satu pilihan kendaraan ternyaman yang bisa mengantarmu langsung ke tempat tujuan. Untuk angkutan umum lainnya, sepertinya agak susah dijangkau deh.

Devoyage itu di mana?


Devoyage berada dekat sekali dengan The Jungle dan berada persis di depan Hotel Aston Bogor yang masih dalam satu wilayah perumahan Bogor Nirwana Residence.

Harga tiket masuk dan jam buka


Harga tiket masuk untuk hari biasa dikenakan biaya 25.000 Rupiah, sedangkan untuk hari libur atau sabtu dan minggu dikenakan biaya 35.000 Rupiah dengan selisih harga 10.000 Rupiah. Kami kaget melihat tiket masuknya yang hanya selembar kertas bagaikan belanja di mini market. Jadi satu tiket untuk rame-rame gitu ceritanya. Untuk waktu bukanya, Devoyage mulai dibuka pada pukul 10.00  WIB sampai pukul 18.00 WIB pada hari biasa dan pukul 09.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB pada hari libur.

Ada pemeriksaan tas?



Setelah membeli tiket, saat mau masuk ke dalam, ada petugas menyuruh kami agar tas diperiksa lebih dulu. Lebih tepatnya bukan diperiksa sih, karena emang nggak ada pemeriksaan. Jadi, kalau kamu ngerasa membawa makanan atau minuman dari luar, harus menyerahkannya ke tempat penitipan. Karena kalau mau makan atau minum sudah ada di dalam Devoyage. Saya pun masih mikir, kenapa nggak boleh bawa? Apa karena biar pada beli di dalam? Atau bisa jadi agar menjaga ketertiban kebersihan, takut ada yang gelar piknik di Devoge, mungkin? 

Suasana di Devoyage


Kami tiba di Devoyage, Bogor pukul 12.15 WIB. Beihh.. memang lagi panas-panasnya. Pohon di sekitar Devoyage masih belum banyak dan daunnya belum ada yang lebat. Jadi panasnya berasa nonjok. Kami langsung disuguhkan perkampungan a la Eropa. Walau belum pernah ke sana, tapi kayak di sana. Hahaha. Awal masuk yang paling terlihat adalah replika menara Eiffelnya. Nah, di posisi awal ini nih, kamu bisa foto menara Eiffelnya.

Nggak jauh dari pintu masuk, ada musala dan kami langsung shalat Zuhur. Walau cuacanya panas, air di Bogor sejuk. Pas ngambil air wudhu, berasa adem banget dah. Sayang sekali, tempat shalat untuk akhwatnya teramat mini. Padahal pengunjung di Devoyage lumayan padat. Apalagi kami datang di waktu libur kerja.

Tips: Jika kamu datang pada siang hari, kamu perlu membawa kacamata atau pun topi untuk melindungi diri dari sengatan sinar matahari. Karena kita perlu jalan dan berkeliling untuk foto-foto di sana. Dan jangan lupa pakai sunscreen atau sunblock agar kulit tubuhmu terlindungi dari radiasi bahaya paparan sinar matahari di siang bolong.

Eksplore spot foto



Dengan mengusung konsep: Holiday, Selfie & Foodies, kamu bisa berliburan sambil selfie dan makan-makan di  Devoyage Bogor. Karena berkonsep selfie,  di dalam Devoyage menghadirkan berbagai spot menarik yang bisa kamu temui untuk foto-foto nih: ada kincir angin a la Belanda, telepon umum a  la London, replika menara Eiffel dan berbagai gaya bangunan rumah khas Eropa. Dan yang membuat kesannya indah, ada berbagai jenis bunga tanaman dengan warna-warna cerah. Buat kamu yang banci foto, Devoyage adalah pilihan yang tepat. Kamu nggak akan kecewa, karena ada 150 spot foto di dalamnya. Seneng kan lo?     





Fasilitas:
·                     Musala yang nggak jauh dari pintu masuk
·                     Toilet untuk umum
·                     Kedai makanan/minuman
·                     Macam-macam bentuk permainan yang mengeluarkan biaya lagi, seperti gondola versi venesia, komidi putar untuk anak balita, dan beberapa permainan menarik yang bisa kamu coba di Devoyage.

Selesai berkeliling Devoyage, pukul 14.00 WIB kami melanjutkan perjalanan untuk kuliner di Bogor. Yap, kami tidak mencoba makan di dalam Devoyage, hanya pesan teh leci dengan harga 17.000 Rupiah.    


Begitulah cerita perjalanan saya waktu di Devoyage Bogor, buat kamu yang sedang bingung mencari tempat liburan di Bogor, saya sarankan untuk datang ke Devoyage. Selamat berliburan...